
MENYADARI
PERSEPSI TENTANG PRODUK
Perkembangan industri periklanan dalam negeri tampaknya
banyak terhambat oleh kenyataan, bahwa hampir seluruh
bahan baku atau peralatan kebutuhan industri dan perkebunan
adalah produk impor. Ini mengakibatkan hanya perusahaan-perusahaan
yang benar-benar besar saja yang sudah membutuhkan periklanan.
Menarik untuk diketahui, bahwa meskipun perkembangan
perekonomian belum mapan, namun pada tahun 1954 sempat
terselenggara Pekan Raya Ekonomi Internasional (PREI).
Maksud diselenggarakannya PREI ini adalah untuk memperkenalkan
produk-produk nasional kepada dunia. Dalam pekan raya
ini terlibat beberapa perusahaan periklanan nasional,
diantaranya Balai Iklan di Bandung, serta Aneta, Indonesia
Reclame and Advertentie Bureau (IRAB) dan Korra di Jakarta.
Pada pekan raya tersebut perusahaan-perusahaan periklanan
menyadari adanya persepsi pada masyarakat kita yang
menganggap rendah mutu segala produk yang dibuat oleh
industri di dalam negeri. Sampai-sampai mereka berfikir,
bahwa mungkin sudah perlu suatu kampanye Beli Bikinan
Indonesia. Meskipun untuk melakukan "gerakan propaganda"
ini mereka mengalami banyak hambatan akibat masih sangat
terbatasnya industri-industri pendukung periklanan*.
* Mungkin mereka mengambil pelajaran dari yang dilakukan
oleh industri periklanan Inggris pada masa yang bersamaan,
Yaitu kampanye "Buy British".(57)
(57) Dunia Ekonomi No.33, 12
juni 1954.
Di Inggris kampanye "beli bikinan sendiri"
diselenggarakan oleh semacam Dewan Periklanan (Ad Council).
Dewan ini merupakan suatu lembaga yang dibentuk mewakili
masyarakat periklanan (Pengiklan, Perusahaan Periklanan
dan Media) serta Pemerintah. Utamanya dimaksudkan untuk
melindungi industri dalam negeri mereka.Dalam kaitan
ini, suratkabar Merdeka, Jakarta, bahkan ikut menyarankan
agar RRI (Radio Republik Indonesia) pun terbuka untuk
beriklan. Khususnya untuk barang-barang yang dibuat
di dalam negeri. Upaya-upaya ini memang memiliki banyak
kemungkinan yang positif sekali bagi industri dalam
negeri.
Iklan, sebagai salah satu cara menyampaikan informasi
tentang produk ini tampak masih relevan hingga saat
sekarang. Utamanya, kalau kita memperhatikan banyaknya
calon konsumen kita yang masih belum mengetahui bahwa
sudah begitu banyak barang yang dibuat oleh putra-putra
Indonesia, atau setidaknya, sudah diproduksi di Indonesia.
(58)
(58) Harian Merdeka, 14 Juni
1954
IKLAN KORPORAT
Dari kelompok pengiklan saat itu dikenal istilah The
Big Five (Lima Besar). Salah satunya adalah NV Borsumij
(Borneo Sumatra Handel Maatschappij). Perusahaan ini
bukan saja banyak menguasai ekspor-impor produk-produk
industri, namun juga mempunyai kantor-kantor cabang
di hampir semua kota besar di Indonesia, bahkan di kota-kota
besar di Asia, Australia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika
Serikat. Sebagai perusahaan yang banyak terlibat dalam
distribusi barang , iklan-iklan Borsumij tentu saja
banyak menonjolkan luasnya jaringan distribusi atau
kantor cabang dan perwakilannya. (59)
(59) Dunia Ekonomi, No.28, 1
Mei 1954

Perusahaan anggota Lima Besar lainnya
adalah produsen ban Good Year. Teks iklannya melakukan
pendekatan rasional, dan berbunyi sbb.:
"Selamanja menguntungkan bila
membeli jang paling baik. Ban ukuran manapun jang tuan
butuhkan biar bagaimanapun keperluannja mintalah Goodyear,
ban jang paling baik karena tiap ban Goodyear mempunyai
telapak dan rangka jang istimewa dibentuk untuk memberikan
Tuan djumlah kilometer jang terbanjak, penghematan terbesar
dan pekerdjaan jang sebaik-baiknja."
Anggota kelompok Lima Besar lainnya adalah produk-produk
elektronika merek Philips yang saat itu banyak berkampanye
dengan tema "Philips, Lambang Kepertjajaan".
Periode ini ditandai dengan mulai munculnya Korporat
(corporate advertising), yaitu iklan yang dibuat secara
bersama-sama oleh beberapa perusahaan dan setiap perusahaan
membayar menurut besarnya ruang yang mereka gunakan
masing-masing. Tidak jelas mengapa muncul kecenderungan
meningkatnya iklan-iklan jenis ini. Kemungkinan, iklan-iklan
ini digunakan juga untuk menunjukkan kepada masyarakat
umum terhadap besar dan bonafiditas perusahaan mereka,
atau sesuatu kelompok usaha.
Tidak banyak iklan berwarna yang muncul
di media cetak. Kalaupun ada, tidak digunakan untuk
memperoleh tambahan dampak atau meningkatkan tingkat
perhatian pembaca, tetapi lebih sering digunakan sekedar
unsur dekorasi. Pemuatannya pun hanya untuk memeriahkan
atau merayakan suatu peristiwa penting. Pengenaan tarif
iklan sudah menggunakan standar milimeter-kolom, namun
iklan-iklan berwarna di majalah abru tersedia untuk
halaman-halaman sampul saja.
|