Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



MENYADARI PERSEPSI TENTANG PRODUK

Perkembangan industri periklanan dalam negeri tampaknya banyak terhambat oleh kenyataan, bahwa hampir seluruh bahan baku atau peralatan kebutuhan industri dan perkebunan adalah produk impor. Ini mengakibatkan hanya perusahaan-perusahaan yang benar-benar besar saja yang sudah membutuhkan periklanan. Menarik untuk diketahui, bahwa meskipun perkembangan perekonomian belum mapan, namun pada tahun 1954 sempat terselenggara Pekan Raya Ekonomi Internasional (PREI). Maksud diselenggarakannya PREI ini adalah untuk memperkenalkan produk-produk nasional kepada dunia. Dalam pekan raya ini terlibat beberapa perusahaan periklanan nasional, diantaranya Balai Iklan di Bandung, serta Aneta, Indonesia Reclame and Advertentie Bureau (IRAB) dan Korra di Jakarta.

Pada pekan raya tersebut perusahaan-perusahaan periklanan menyadari adanya persepsi pada masyarakat kita yang menganggap rendah mutu segala produk yang dibuat oleh industri di dalam negeri. Sampai-sampai mereka berfikir, bahwa mungkin sudah perlu suatu kampanye Beli Bikinan Indonesia. Meskipun untuk melakukan "gerakan propaganda" ini mereka mengalami banyak hambatan akibat masih sangat terbatasnya industri-industri pendukung periklanan*.

* Mungkin mereka mengambil pelajaran dari yang dilakukan oleh industri periklanan Inggris pada masa yang bersamaan, Yaitu kampanye "Buy British".(57)

(57) Dunia Ekonomi No.33, 12 juni 1954.

Di Inggris kampanye "beli bikinan sendiri" diselenggarakan oleh semacam Dewan Periklanan (Ad Council). Dewan ini merupakan suatu lembaga yang dibentuk mewakili masyarakat periklanan (Pengiklan, Perusahaan Periklanan dan Media) serta Pemerintah. Utamanya dimaksudkan untuk melindungi industri dalam negeri mereka.Dalam kaitan ini, suratkabar Merdeka, Jakarta, bahkan ikut menyarankan agar RRI (Radio Republik Indonesia) pun terbuka untuk beriklan. Khususnya untuk barang-barang yang dibuat di dalam negeri. Upaya-upaya ini memang memiliki banyak kemungkinan yang positif sekali bagi industri dalam negeri.

Iklan, sebagai salah satu cara menyampaikan informasi tentang produk ini tampak masih relevan hingga saat sekarang. Utamanya, kalau kita memperhatikan banyaknya calon konsumen kita yang masih belum mengetahui bahwa sudah begitu banyak barang yang dibuat oleh putra-putra Indonesia, atau setidaknya, sudah diproduksi di Indonesia. (58)

(58) Harian Merdeka, 14 Juni 1954

IKLAN KORPORAT

Dari kelompok pengiklan saat itu dikenal istilah The Big Five (Lima Besar). Salah satunya adalah NV Borsumij (Borneo Sumatra Handel Maatschappij). Perusahaan ini bukan saja banyak menguasai ekspor-impor produk-produk industri, namun juga mempunyai kantor-kantor cabang di hampir semua kota besar di Indonesia, bahkan di kota-kota besar di Asia, Australia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat. Sebagai perusahaan yang banyak terlibat dalam distribusi barang , iklan-iklan Borsumij tentu saja banyak menonjolkan luasnya jaringan distribusi atau kantor cabang dan perwakilannya. (59)

(59) Dunia Ekonomi, No.28, 1 Mei 1954

Perusahaan anggota Lima Besar lainnya adalah produsen ban Good Year. Teks iklannya melakukan pendekatan rasional, dan berbunyi sbb.:

"Selamanja menguntungkan bila membeli jang paling baik. Ban ukuran manapun jang tuan butuhkan biar bagaimanapun keperluannja mintalah Goodyear, ban jang paling baik karena tiap ban Goodyear mempunyai telapak dan rangka jang istimewa dibentuk untuk memberikan Tuan djumlah kilometer jang terbanjak, penghematan terbesar dan pekerdjaan jang sebaik-baiknja."
Anggota kelompok Lima Besar lainnya adalah produk-produk elektronika merek Philips yang saat itu banyak berkampanye dengan tema "Philips, Lambang Kepertjajaan".

Periode ini ditandai dengan mulai munculnya Korporat (corporate advertising), yaitu iklan yang dibuat secara bersama-sama oleh beberapa perusahaan dan setiap perusahaan membayar menurut besarnya ruang yang mereka gunakan masing-masing. Tidak jelas mengapa muncul kecenderungan meningkatnya iklan-iklan jenis ini. Kemungkinan, iklan-iklan ini digunakan juga untuk menunjukkan kepada masyarakat umum terhadap besar dan bonafiditas perusahaan mereka, atau sesuatu kelompok usaha.

Tidak banyak iklan berwarna yang muncul di media cetak. Kalaupun ada, tidak digunakan untuk memperoleh tambahan dampak atau meningkatkan tingkat perhatian pembaca, tetapi lebih sering digunakan sekedar unsur dekorasi. Pemuatannya pun hanya untuk memeriahkan atau merayakan suatu peristiwa penting. Pengenaan tarif iklan sudah menggunakan standar milimeter-kolom, namun iklan-iklan berwarna di majalah abru tersedia untuk halaman-halaman sampul saja.




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››