Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA
1744 - 1984

 

Setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar, sebagian besar perusahaan, seperti perusahaan minyak, pengangkutan perkapalan dan perbankan masih menggunakan modal dan pengelolaan Belanda. Sedangkan usaha-usaha kecil, termasuk biro-biro iklan, masih belum pula bersatu. Padahal jumlah perusahaan-perusahaan periklanan ini cukup banyak. Misalnya, di Jakarta saja pada saat itu terdapat 21 perusahaan periklanan, sementara di Bandung terdapat 7. Di luar Jawa (Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan) terdapat sekitar 20 perusahaan periklanan. (54)

(54) Biro Statistik, 1952.

Sebaliknya perkembangan media-cetak hingga tahun 1958 masih terbelakang, hal ini disebabkan oleh banyaknya perusahaan percetakan ayng masih dikuasai oleh Balanda. Di Solo misalnya, hanya ada dua percetakan. Keduanya beserta alat-alat intertype mereka ternyata juga dirampas Belanda. Meskipun demikian, sebuah harian diusahakan terbit pada tahun 1950, dan diberi nama Surja Tjandra. Harian yang berukuran sebesar saputangan ini pun masih menggunakan teknologi cetak tangan (handpres). Munculnya Surja Tjandra kemudian diikuti oleh harian lainnya, Pacific, dalam format tabloid (sekitar 75 cm lebar, 55 cm tinggi). Surja Tjandra sendiri kemudian berganti nama menjadi Dwiwarna dan dicetak pada percetakan yang sama dengan Pacific, dan dengan format yang sama pula. Meskipun kedua suratkabar ini hanya dapat bertahan dua tahun, namun pada umumnya pers Indonesia di Jawa Tengah sejak tahun 1953 mulai mengalami kemajuan yang cukup berarti, dibandingkan dengan keadaan sebelum perang. Kecuali percetakan yang sudah lumayan, para biro iklan pun sudah lebih percaya pada suratkabar-suratkabar daerah tersebut. Meskipun umumnya masih terbatas pada iklan-iklan mini (classifield ad).

MENERTIBKAN IKLAN OBAT-OBATAN

Tahun 1953 juga ditandai dengan gencarnya iklan obat-obatan yang diproduksi oleh biro-biro iklan nasional. Menjamurnya iklan obat-obatan ini, tampaknya kurang diikuti dengan rasa tanggung-jawab yang seimbang oleh sebagian anggota masyarakat periklanan saat itu. Bahkan banyak pula di antara obat-obatan yang beredar (dan diiklankan) itu yang diragukan manfaat dan keselamatannya bagi konsumen. Keadaan itu akhirnya memaksa para praktisi periklanan yang dimotori Serikat Perusahaan Suratkabar (SPS) untuk mengusulkan dilakukannya penertiban.

Maka tahun 1954 Kementerian Kesehatan mengeluarkan dua ketentuan, yaitu:
  1. Semua obat-obatan harus diteliti dulu keselamatan dan kemanfaatannya sebelum dapat dijual di Indonesia.
  2. Bahwa iklan obat-obatan harus menerangkan isi dan manfaat yang sesuai dengan yang telah disahkan oleh Kementerian Kesehatan. (55)

(55) Serikat Perusahaan Suratkabar: Sekilas Sedjarah Perjuangan Pers Suratkabar Sebagsa, 1958, hlm.129.

Sementara itu, di Sumatera Utara terdapat pula beberapa suratkabar yang telah banyak memuat iklan. Antara lain harian Pendorong yang dipimpin oleh Ripat Sanikentara, kemudian disusul terbitnya harian Lembaga pada tahun 1953 dipimpin oleh Abdul Wahab Siregar, dan harian Tangkas pimpinan Tengku Makmur.

Meskipun demikian suratkabar-suratkabar tersebut tampaknya kurang serius menangani pendapatan dari sektor periklanannya. Mungkin karena iklan-iklan yang dimuat pada suratkabar tersebut masih terbatas pada iklan-iklan mini yang kurang menguntungkan mereka. Sedangkan surat-kabar yang tampaknya sangat serius menangani periklanannya adalah The Sumatra Times dan Hua Chiau Yit Po. Kedua surat-kabar ini dimiliki oleh orang-orang Cina.


Di Sumatra Barat terbentuknya negara kesatuan juga mempengaruhi nama beberapa suratkabar yang sudah terbit sebelumnya. Harian Panarangan misalnya, menjadi Penerangan. Harian ini dicetak di percetakan Radio. Pemimpin Redaksinya bertukar berkali-kali. Mulanya, dari Oie Tin Djin pindah kepada M. Ridwan, lalu kepada Jahja djalil dan Zakaria Yamin, sebelum akhirnya kepada A. Umar Said. Selain Penerangan percetakan Radio mencetak juga harian Warga Merdeka, yang saat itu dipimpin oleh M. Ridwan.

Jika diperhatikan sejarah ringkas persuratkabaran yang pernah terbit di Padang atau Sumatra Barat, ternyata rantai penerbitan itu tidak pernah putus. Begitu pula perusahaan-perusahaan periklanannya. Meskipun mereka baru sanggup mengelola iklan-iklan mini. Tarif iklan pun saat itu relatif sangat murah. Misalnya, untuk surat kabar Warta Hindia hanya mengenakan tarif Rp.1,- per baris, padahal harga suratkabarnya sendiri sudah Rp.3,- per eksemplar. Atau surtkabar Oetoesan Melajoe yang juga terbit di Padang yang banyak memuat iklan produk obat-obatan, hanya mengenakan tarif Rp. 1,50,- ketika harga surat kabarnya sudah Rp.2,-. Untuk iklan-iklan bergambar (display ad) perhitungan tarif ruang iklan juga sudah menggunakan milimeter-kolom. Yaitu lebar (dalam kolom) X tinggi (dalam milimeter), sebagaimana berlaku di jaman modern.

Periode itu merupakan peluang bagi perusahaan-perusahaan periklanan Indonesia. Karena sebelumnya, perusahaan-perusahaan periklanan umumnya dikuasai oleh orang-orang Belanda. Kesempatan tersebut utamanya muncul sekitar tahun 1949, beberapa saat setelah penyerahan kedaulatan. Lebih khusus lagi, ketika surat kabar Belanda Persatoean diambil alih oleh Osa Maliki, yang kemudian menjadi lahan bagi beberapa perusahaan periklanan yang ada di Jawa dan Sumatra. Kecenderungan itu kemudian juga menyebar ke berbagai perusahaan periklanan lain, melalui beberapa suratkabar lokal, seperti Mangle, Sipatahoenan dan Suara Indonesia di Bandung. Hal ini berlangsung hingga tahun 1952.

Meskipun demikian, hingga tahun 1967, perusahaan-perusahaan tersebut umumnya masih banyak yang melulu menangani iklan-iklan mini. Iklan-iklan komersial masih sangat terbatas dan umumnya baru dari produk-produk industri ringan atau industri rumah tangga. Di antara jenis-jenis produk ini, jamu atau pengobatan tradisional banyak mendominasi media cetak saat itu. Iklan produk modern yang terlihat banyak muncul adalah mentega Palmboom. Slogan iklannya yang sangat populer adalah: Semua hidanganku djauh lebih lezat sedjak saja memakai Palmboom. (56)

(56) Harian Penjebar Semangat, 7 Januari 1956.




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››