
SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA
1744 - 1984
AWAL IKLAN-IKLAN LAYANAN MASYARAKAT
Kemenangan Sekutu pada tahun 1945, tentu saja berarti
pula segera kembalinya situasi ekonomi maupun periklanan
seperti masa pra pendudukan Jepang. Beberapa iklan pertama
yang muncul di suratkabar memuat himbauan membantu dana
bagi berbagai kebutuhan mendesak pada masa pasca kemerdekaan.
Dana yang dihimpun dari iklan-iklan ini umumnya dimaksudkan
untuk membantu tiga hal penting, yaitu:
- Melanjutkanperjuangan mempertahankan
kemerdekaan.
- Pembangunan atau perbaikan sekolah,
dan
- Mengaktifkan BPKKP. (49)
(49) Kedaulatan Rakyat, 3 Februari
1946.
Iklan-iklan tersebut tercatat sebagai jenis iklan-iklan
layanan masyarakat pertama dalam sejarah periklanan
Indonesia.
Perjuangan memenangkan perang sebagai pemicu lahirnya
layanan masyarakat di Indonesia itu, ternyata mirip
dengan yang terjadi di Amerika Serikat tahun 1939. Hanya
saja, praktisi periklanan Amerika menggunakan iklan
layanan masyarakat ini lebih untuk membantu para korban
bangsa Amerika dalam Perang Dunia I. Selain iklan -
iklan penghimpun dana, di Indonesia saat itu praktis
hanya terdapat iklan-iklan yang menawarkan jasa perbaikan
radio dan alat-alat kantor. Memang banyak sekali barang-barang
yang rusak akibat peperangan atau perebutan kembali
oleh anggota masyarakat terhadap barang-barang yang
dikuasai anggota tentara Jepang.
IKLAN KELUARGA
Ciri lain dari periklanan di masa awal kemerdekaan
adalah banyaknya iklan ucapan belasungkawa atau ucapan
terima kasih dari keluarga yang kehilangan sanak saudaranya,
seperti contoh berikut:

Keloearga dan sanak saoedara dari almarhoem pahlawan kemerdekaan:
R. Aluisius Soemardjono mengatoerkan
diperbanjak terimakasih atas penghormatan dan soembangan pada djenazahnja
R.A. Soemardjono, apa lagi atas oetjapan
toeroet berdoeka tjita pada kami semoea. (50)
(50) Merdeka, 11 September 1946
Dari sisi lain, banyaknya iklan belasungkawa ini juga
telah ikut mengangkat solidaritas rakyat untuk mempertahankan
kemerdekaan.
Sementara itu, iklan pertama yang menawarkan produk
pada masa ini adalah untuk bahan kebutuhan pokok masyarakat,
seperti kain dan sabun. Meskipun demikian, penggarapan
pesannya masih meniru pola masa pendudukan Jepang, yang
hanya memanfaatkan unsur verbal, dan kurang memikirkan
aspek persuasinya. Tarif pemasangan iklan di masa itu
adalah rata-rata f.2,50 per baris. Harga langganan sebulan
adalah sekitar f.3,50.
MENGHIMPUN DANA UNTUK KEMERDEKAAN
Munculnya iklan-iklan penghimpunan dana dan memuncaknya
solidaritas dan rasa kebangsaan telah melahirkan gagasan
pada praktisi periklanan untuk ikut membantu dana perjuangan
lebih jauh lagi. Yaitu dengan mengenakan f.1,- pada
setiap iklan sebagai "dana kemerdekaan". Tidak
terdapat catatan tentang lamanya aturan itu dilaksanakan,
maupun besarnya dana yang dapat dihimpun. Meskipun langkah
iklan-iklan produk pada masa itu, menyebabkan dana yang
dihimpun dari pengenaan surcharge langsung pada iklan-iklan
tersebut diduga tidak besar, namun itikad para praktisi
periklanan ini sangat dihargai. (51)
(51) Penghela Rakyat, 8 Agustus 1946.
MUNCULNYA USAHAWAN BESAR
Situasi "kelangkaan iklan produk" ini agak
berubah pada tahun 1949, saat mulai bermunculannya kelompok
usahawan besar pribumi. Beberapa nama terkenal saat
itu adalah Agoes Dasaad, Djohan Soetan Soelaman, Djohor
Soetan Perpatih, Rahman Tamin, dan Hadji Abdul Ghani
Aziz. Meskipun usaha mereka sebenarnya sudah dirintis
sejak 1920-an atau 1930-an. Terhambatnya perkembangan
usaha mereka utamanya disebabkan oleh embargo yang dilakukan
Belanda pada perdagangan luar negeri Indonesia.
Meskipun demikian, hambatan ini dapat ditanggulangi
oleh para usahawan Indonesia dengan melakukan perdagangan
langsung secara sembunyi-sembunyi ke dan dari Singapura
atau Malaya (sekarang Malaysia).
Cara lain yang mereka gunakan adalah dengan memanfaatkan
iklan-iklan, walaupun terpaksa hanya dapat dilakukan
dalam skala kecil dan sederhana. Selain itu, perusahaan-perusahaan
pribumi ini mulai pula memperkenalkan pentingnya kemasan
bagi produk-produk konsumen. Utamanya dalam keadaan
ekonomi yang sulit. Sebuah tulisan pada suratkabar Kedaulatan
Rakjat, Yogyakarta, menyebutkan:
... Boeat kemadjoean perdagangan jang perloe pake
boengkoesan enz, jang perloe pake etika dan sebaginja,
soela warna ada pegang rol amat penting. Pendjoealan
ada bergantoeng banjak dengan kleur yang terpilih betoel,
maka djangan alpa boeat pake kleur-kleur yang setimpal...
(52)
(52) Kedaulatan Rakyat, 5 Juli
1948.
MULAI MERAMBAK KEMBALI
Situasi ekonomi yang sulit memang menyebabkan banyaknya
iklan yang menawarkan ekonomisasi dalam pembelanjaan
ataupun kehidupan sehari-hari masyarakat. Iklan berikut
dimuat di suratkabar Merdeka, 10 Juli 1948 Jakarta:
Hematkan Ongkos Pakean.
Njonja-njonja en nona-nona bisa bikin Costume dan laen-laen
pakean sendiri dengen gampang en ongkos moerah. Ambil
Les pada Costuum School Maison Gouw Molenveit Oost 76-
Batavia.
Tetapi, banyaknya iklan-iklan dari penjahit dan kursus
ternyata menjadi awal bagi bangkitnya kembali iklan-iklan
komersial di Indonesia. Pemicu banyaknya iklan-iklan
jahit-menjahit ini juga datang dari kebutuhan mendesak
para anggota laskar Indonesia. Di masa agresi Belanda
pertama dan kedua, pakaian para laskar Indonesia, selain
diperoleh dengan merebut pakaian tentara Jepang, juga
dibuat baru dengan bantuan penjahit-penjahit kecil yang
telah melakukannya sejak sebelum Perang Dunia II. Penjahit-penjahit
ini pun aktif memasang iklan, sehingga dengan sendirinya
ikut pula menghimpun sumbangan f.1,- untuk setiap iklan
yang dimuat, sebagai "dana kemerdekaan". (53)
(53) Antara, 1 Februari 1949.
Menyusul setelah iklan-iklan jahit-menjahit itu, mulai
muncul iklan produk-produk baru, seperti minyak goreng,
bir kalengan dan papan tripleks. Produk-produk ini utamanya
banyak terlihat di saat setelah tercapainya kesepakatan
antara Indonesia dan Belanda dalam KMB (Konferensi Meja
Bundar).
Menarik untuk disimak, bahwa terdapat beberapa rincian
tentang besarnya devisa langsung yang diperoleh dari
sub sektor periklanan. Meskipun pada periode awal kemerdekaan,
nilai keseluruhan devisa ini tidak berbeda jauh dengan
yang diperoleh pada periode pendudukan Jepang, yakni
hanya sekitar Rp. 100.000,-. Relatif kecilnya devisa
ini mungkin dipengaruhi oleh situasi ekonomi yang tidak
menentu. Khususnya dengan perdagangan luar negeri yang
terus-menerus diembargo oleh Belanda. Namun catatan
mengenai devisa dari subsektor periklanan jadi menarik,
karena di jaman modern seperti sekarang pun pemantauan
hal ini sangat sulit dilakukan. Embargo perdagangan
oleh Belanda baru berakhir ketika ditanda-tanganinya
perjanjian KMB.
|