Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA
1744 - 1984

 

DOMINASI PROPAGANDA

Invasi Jepang ke Indonesia dengan serta-merta menghentikan laju industri periklanan Indonesia yang sebelumnya dikelola secara relatif profesional. Bahkan segala kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat, dialihkan ke ekonomi untuk pemerintah, atau ekonomi perang. Kebijaksanaan ekonomi ini bertumpu pada prioritas pembangunan fasilitas-fasilitas strategis untuk pertahanan dan keamanan. Misalnya, pembangunan jalan raya, kereta api, dan pemindahan romusha (pekerja paksa). Kampanye-kampanye periklanan pun yang semula bertujuan komersial, berubah menjadi propaganda politik, atau untuk mendukung kepentungan militer pihak Jepang.

Organ Jepang di Jawa, Asia Raya dan Djawa Shimbun yang terbit setiap hari, memprogandakan kemegahan Jepang sebagai negeri industri yang dapat melindungi seluruh negeri Asia termasuk Indonesia (Hindia Belanda). Kedua organ tersebut sepenuhnya dibiayai oleh Departemen Penerangan Jepang di Indonesia. Selain itu, propaganda di kedua suratkabar itu juga memuat perekrutan tenaga kerja untuk dijadikan pekerja paksa, atau bekerja untuk kepentingan militerisme Jepang. Karena itu, jenis-jenis iklan pada zaman Jepang terbatas pada produk-produk skala kecil, seperti produk alat tulis berikut:

Merk Patjar. Ada Tinta toelis jang berkwalitet istimewa oentoek voelpen dan oelis biasa.
Minta dioedji, tak perloe dipoedji. Wakil pabrik, Toko boekoe Tan. (46)

(46) Asia Raya, 16 September 1943.

Sementara itu untuk melancarkan propaganda, Jepang memproduksi buku-buku, sebagaimana tertera dalam suratkabar Djawa Shimbun:

Asia Raya, 3 Mei 1942
Djawa Shuppan Haikyu Shu. Menjiarkan boekoe-boekoe, madjalah-madjalah dan lain-lain tentang Keboedajaan Baroe jang penting-penting didalam bahasa Nippon, Indonesia dan Tionghoa. Poesat Pendjoeal boeat seloeroeh tanah Djawa dibawah penilidikan Gunseikanbu. (47)

(47) Djawa Shinbun, 11 Oktober 1942

Gunseikanbu adalah kantor propaganda politik Jepang yang bertugas untuk mengendalikan bacaan untuk kaum pribumi. Pada masa pendudukan Belanda, tugas mengendalikan bacaan ini tidak berbeda jauh dengan Balai Poestaka.

Iklan-iklan yang masih bertahan pada masa pendudukan Jepang adalah dari perusahaan-perusahaan batik, rokok kretek, percetakan dan bidang profesi seperti dokter atau medis lainnya. Sedangkan perusahaan-perusahaan besar (utamanya perkebunan dan mobil) yang berkembang pada masa Belanda, telah terlanjur hancur pada saat pendudukan Jepang.

Masa-masa awal pendudukan Jepang juga ditandai dengan banyaknya iklan untuk mencari tenaga kerja, serta munculnya banyak perusahaan periklanan yang dimiliki oleh orang-orang Arab. Salah satu diantaranya adalah AS Alatas yang memasang tarif iklan sebagai berikut:
Harga advertentie f.1,- sebaris, harga langganan3 boelan f.4,50,- ditambah 10 sen seboelan oentoek barisan pembela tanah air.

Dengan dibukanya kantor-kantor Jepang dan untuk mendukung teknik-teknik propaganda modern mereka, banyak dibutuhkan tenaga profesional. Ketrampilan-ketrampilan seperti bahasa, steno, mengetik, akintansi dan korespondensi adalah yang paling banyak diperlukan. Situasi itulah sebenarnya yang merangsang bermunculannya iklan-iklan yang menawarkan jasa memberikan kursus-kursus kilat. Berikut adalah salah satu contoh iklan di masa itu:

Memberi Peladjaran-Peladjaran Bahasa-Bahasa, Steno, Mengetik, Memegang Boekoe, Soerat Menjoerat Alamat Jang ta'asing lagi. Koersoes Dagang Brawidjaja.
Matraman II-tel 705. Kwitang 30-tel 4723. (48)


(48) Djawa Shinbun, 21 Juli 1943.

Iklan-iklan lainnya cukup menonjol dan mendominasi suratkabar-suratkabar adalah iklan bioskop yang banyak menayangkan film-film Jepang seperti Sekai Tsugu dan Yukino Shigun.

Dibandingkan dengan periklanan zaman Hindia Belanda, iklan pada masa pendudukan Jepang justru cenderung lebih sederhana. Kebanyakan menggunakan pesan verbal tanpa gambar. Hal ini mungkin merupakan dampak lain dari kebijaksanaan politik Jepang yang lebih mementingkan industri-industri alat perang serta yang langsung untuk kepentingan tanah airnya sendiri. Meskipun demikian, banyak kasus yang membuktikan, bahwa Jepang menjadikan propaganda dan iklan, juga sebagai wahan untuk melakukan invasi kebudayaan.




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››