
SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA
1744 - 1984
DOMINASI PROPAGANDA
Invasi Jepang ke Indonesia dengan serta-merta menghentikan
laju industri periklanan Indonesia yang sebelumnya dikelola
secara relatif profesional. Bahkan segala kegiatan yang
berhubungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat, dialihkan
ke ekonomi untuk pemerintah, atau ekonomi perang. Kebijaksanaan
ekonomi ini bertumpu pada prioritas pembangunan fasilitas-fasilitas
strategis untuk pertahanan dan keamanan. Misalnya, pembangunan
jalan raya, kereta api, dan pemindahan romusha (pekerja
paksa). Kampanye-kampanye periklanan pun yang semula
bertujuan komersial, berubah menjadi propaganda politik,
atau untuk mendukung kepentungan militer pihak Jepang.
Organ Jepang di Jawa, Asia Raya dan Djawa Shimbun
yang terbit setiap hari, memprogandakan kemegahan Jepang
sebagai negeri industri yang dapat melindungi seluruh
negeri Asia termasuk Indonesia (Hindia Belanda). Kedua
organ tersebut sepenuhnya dibiayai oleh Departemen Penerangan
Jepang di Indonesia. Selain itu, propaganda di kedua
suratkabar itu juga memuat perekrutan tenaga kerja untuk
dijadikan pekerja paksa, atau bekerja untuk kepentingan
militerisme Jepang. Karena itu, jenis-jenis iklan pada
zaman Jepang terbatas pada produk-produk skala kecil,
seperti produk alat tulis berikut:
Merk Patjar. Ada Tinta toelis jang berkwalitet
istimewa oentoek voelpen dan oelis biasa.
Minta dioedji, tak perloe dipoedji. Wakil pabrik, Toko
boekoe Tan. (46)
(46) Asia Raya, 16 September 1943.
Sementara itu untuk melancarkan propaganda, Jepang
memproduksi buku-buku, sebagaimana tertera dalam suratkabar
Djawa Shimbun:
Asia Raya, 3 Mei 1942
Djawa Shuppan Haikyu Shu. Menjiarkan boekoe-boekoe,
madjalah-madjalah dan lain-lain tentang Keboedajaan
Baroe jang penting-penting didalam bahasa Nippon, Indonesia
dan Tionghoa. Poesat Pendjoeal boeat seloeroeh tanah
Djawa dibawah penilidikan Gunseikanbu. (47)
(47) Djawa Shinbun, 11 Oktober 1942
Gunseikanbu adalah kantor propaganda
politik Jepang yang bertugas untuk mengendalikan bacaan
untuk kaum pribumi. Pada masa pendudukan Belanda, tugas
mengendalikan bacaan ini tidak berbeda jauh dengan Balai
Poestaka.
Iklan-iklan yang masih bertahan pada masa pendudukan
Jepang adalah dari perusahaan-perusahaan batik, rokok
kretek, percetakan dan bidang profesi seperti dokter
atau medis lainnya. Sedangkan perusahaan-perusahaan
besar (utamanya perkebunan dan mobil) yang berkembang
pada masa Belanda, telah terlanjur hancur pada saat
pendudukan Jepang.
Masa-masa awal pendudukan Jepang juga ditandai dengan
banyaknya iklan untuk mencari tenaga kerja, serta munculnya
banyak perusahaan periklanan yang dimiliki oleh orang-orang
Arab. Salah satu diantaranya adalah AS Alatas yang memasang
tarif iklan sebagai berikut:
Harga advertentie f.1,- sebaris, harga langganan3
boelan f.4,50,- ditambah 10 sen seboelan oentoek barisan
pembela tanah air.
Dengan dibukanya kantor-kantor Jepang dan untuk mendukung
teknik-teknik propaganda modern mereka, banyak dibutuhkan
tenaga profesional. Ketrampilan-ketrampilan seperti
bahasa, steno, mengetik, akintansi dan korespondensi
adalah yang paling banyak diperlukan. Situasi itulah
sebenarnya yang merangsang bermunculannya iklan-iklan
yang menawarkan jasa memberikan kursus-kursus kilat.
Berikut adalah salah satu contoh iklan di masa itu:
Memberi Peladjaran-Peladjaran Bahasa-Bahasa, Steno,
Mengetik, Memegang Boekoe, Soerat Menjoerat Alamat Jang
ta'asing lagi. Koersoes Dagang Brawidjaja.
Matraman II-tel 705. Kwitang 30-tel 4723. (48)
(48) Djawa Shinbun, 21 Juli 1943.
Iklan-iklan lainnya cukup menonjol dan mendominasi
suratkabar-suratkabar adalah iklan bioskop yang banyak
menayangkan film-film Jepang seperti Sekai Tsugu dan
Yukino Shigun.
Dibandingkan dengan periklanan zaman Hindia Belanda,
iklan pada masa pendudukan Jepang justru cenderung lebih
sederhana. Kebanyakan menggunakan pesan verbal tanpa
gambar. Hal ini mungkin merupakan dampak lain dari kebijaksanaan
politik Jepang yang lebih mementingkan industri-industri
alat perang serta yang langsung untuk kepentingan tanah
airnya sendiri. Meskipun demikian, banyak kasus yang
membuktikan, bahwa Jepang menjadikan propaganda dan
iklan, juga sebagai wahan untuk melakukan invasi kebudayaan.

|