
IKLAN DIALOG DALAM MEDIA CETAK
Ketiadaan media auditif atau audio-visual tidak menghalangi
para perancang iklan untuk menciptakan format pesan
dialogis. Iklan sabun mendi merek Mady Royal pada contoh
berikut menggunakan ilustrasi sepasang suami istri dengan
teks sbb:
 |
Istri
: Ini seboeah saboen haroem lagi, jang enak
baoenja.
Soeami: Apakah ini soedah kotak jang kedoea?
Istri : Boekan. Masih kotak jang kesatoe, saboen
ini hemat sekali dalam
pemakaiannja.
Soeami :Sekarang koelitmoe soedah haloes dan
bagoes, disebabkan
saboen ini.
Istri : Tentoe sadja dari moelai sekarang dan selandjoetnja
saja hanja
akan
membeli saboen wnagi Mady Royal: saboen ini tidak
hanja
hemat
dalam pemakaiannja dan bagoes oentoek koelit, djoega
haroem
baoenja dan lagi moerah harganja. (38) |
(38) Kabar Perniagaan, 6 Juli 1933.

Iklan cetak dalam format dialog ternyata berkembang di
Indonesia pada tahun 1930-an. Padahal, iklan jenis ini
di Eropa sudah digunakan pada awal abad ke-19, utamanya
untuk mengiklankan produk obat-obatan oleh perusahaan-perusahaan
periklanan di Inggris. (39)
(39) Raymond Williams. "Advertising",
The Magic System.
PAPA KHASANAH KATA
Kurangnya bacaan dan randahnya tingkat pendidikan
masyarakat Indonesia di masa tahun 1930-an, juga tercermin
dari terbatasnya khasanah kata yang digunakan pada iklan-iklan.
Kebanyakan iklan menggunakan istilah-istilah yang sama.
Contoh berikut adalah iklan dari produk bedak krim yang
sebenarnya justru ditujukan pada kelompok sosio-ekonomi
"sangat atas". Pada kelompok elit ini pun
perancang iklannya masih meragukan perbendaharaan kata
khalayak sasarannya. Akibatnya, perancang iklan ini
pun merasa perlu menjelaskan arti kata "ideal"
dan "krim" kepada khalayak elit tersebut.
Iklan ini menggunakan ilustrasi seorang wanita Eropa,
berkulit halus dan berparas cantik. Dihadapannya terdapat
satu kotak besar bedak krim Madam Blanche. Di latar
belakangnya terbaca:
Ideal (kainginan oetama) bagi kaum perampoean jalah
Cream (bedak basah) Madam Blanche.
Teks iklan ini menjanjikan:
Bedak modern jang bikin poetih aseli koelit, bikin sampoerna
ketjantikan, bikin haloes sehat koelit, ilangkan bibit
koekoel d.s.
Unsur persuasi lain yang digunakan adalah: "Baoenja
haroem, sedep, seger.
Karena iklan juga merupakan cermin dari kehidupan sosial-budaya
masyarakatnya, maka dapat diduga, bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat di masa itu pun masih sangat rendah.
PENGUSAHA MENENGAH IKUT BERIKLAN
Pada periode tahun 1930-an, industri skala kecil yang
banyak menggunakan jasa perusahaan periklanan adalah
perusahaan batik, pemasangan undian, iklan film di bioskop,
lowongan pekerjaan dan penjahit pakaian. Menjamurnya
industri skala kecil ditahun 1930-an yang memanfaatkan
jasa iklan, ditunjang oleh bujukan beberapa artikel
yang mempromosikan pentingnya iklan bagi perusahaan
yang ingin meraih sukses.
Suratkabar atau jurnal pada tahun 1930-an yang seringkali
memuat artikel tentang periklanan adalah Economic Weekblad
dan jurnal mingguan Efficiency Dagang. Keduanya terbit
hingga masa pendudukan Jepang. Aspek-aspek yang biasanya
diketengahkan dalam artikel-artikel tersebut adalah
semacam dorongan agar para pengusaha mengiklankan produk-produk
mereka.
Perhatikan contoh artikel berikut:
Bangsa Barat ada berbeda djaoeh sekali dalem marika
peonja tjara mengatoer memadjoekan barang dagangan.
Saben taon soedah tentoe marika ada sediakan begrooting
boeat ongkos-ongkos jang dikeloearkan boeat reclame
atawa propaganda seperti memoeat iklan enz. Marika jakin,
bahoea oentoek memadjoekan barang dagangan ada banjakmatjem
djalannja, dan salah satoe djalan jang paling praktisch
adalah kasih masoek advertentie, dengen ini djalan publiek
djadi bisa dapet mengetahoei barang jang didagangken,
dan djika banjak orang soedah pada kenal kwaliteitnja
itoe barang, tida soesah boeat si soedagar bikin omzet
besar dan loeasken perdagangannja. (40)
(40) "Arti Pentingnya Reclame
dan Advertising", jurnal mingguan Effisiensi dagang,
16 Juni 1916.
Contoh dari perusahaan di Indonesia yang sukses karena
beriklan adalah Aw Boon Haw. Perusahaan ini bergerak
di bidang kosmetika dan obat-obatan. Economie Weekblad
memberitakan aktivitas periklanan perusahaan ini, sbb.:
Di antara bangsa kita jang soedah insjaf kepentingannja
memoeat iklane kita boleh seboet disini Aw Boon Haw,
tiap taon ia moesti membajar ratoesan riboe roepiah
boeat iklanes dan reclame, boleh dibilang ampir semoea
soerat kabar dan madjalah ada memoeat ia poenja iklane
dan hasilnja ....Riboean orang jang kepalanja poesing
sigra inget Poeder Tjap Matjan, obat pembrantas sakit
kepala.(41)
(41) Economic Weekblad, 30 August 1937
Artikel tersebut menunjukkan, bahwa perusahaan kecil
seperti Aw Boon Haw, dapat menjadi besar jika memiliki
keberanian untuk menyisihkan sebagian modalnya untuk
beriklan. Dan bahwa dengan memanfaatkan iklan untuk
mendorong distribusi produknya, perusahaan itu akan
berhasil. Hal ini ternyata dapat dibuktikan dengan keuntungan
bersih yang diperoleh perusahaan. Dengan menganggarkan
f. 200 ribu untuk beriklan, perusahaan ini berhasil
meraih omzet 10 kali lipat menjadi f. 2 juta. (42)
(42) Economic Weekblad, 31 August
1937.
KECENDERUNGAN PERIKLAN 1930-AN
SINGLE MINDED
Pada tahun 1930-an juga berkembang tuntutan klien
pada perusahaan periklanan untuk menciptakan pesan-pesan
iklan yang lebih terfokus dan efisien. Dalam pengertian,
para perusahaan periklanan dituntut untuk menyederhanakan
iklan-iklan yang mereka ciptakan. Baik itu dalam bentuk
verbal maupun yang dengan ilustrasi.
Sebagaimana terbaca pada majalah mingguan Efficiency
Bald:
... keringkesan dalam advertentie ada perloe. Kebanjakan
advertentie-advertentie ada terlaloe "penoe"
dengen perkatahan-perkatahan. Boekan sadja kepenoehan
dengan perkatahan-perkatahan jang tida ada artinja sama
sekali membikinitoe advertentie tidak bisa mendpatkan
maksoed. (43)
(43) Ilmoe Advertentie, Efficiency
Maandlled, September 1934.
MEMPERHATIKAN ASPEK-ASPEK PENTING IKLAN
Kalau kita simak, contoh-contoh iklan masa itu, cenderung
menampilkan tiga aspek penting yang tetap relevan sampai
sekarang, yaitu:
Pertama, periklanan saat itu sudah dituntut untuk memilih
kata-kata yang sederhana dan langsung,sehingga maknanya
dapat lebi cepat ditangkap oleh calon konsumennya.
Kedua, kata-kata yang dipilih harus pula punya kaitan
dengan produk yang diiklankan. Misalnya, pada teks iklan
untuk produk obat "anti-loyo" dibawah ini:
"Lelaki namanja, lojo djalannja!
Itoe kandoeng pengaroeh besar, sebab kita poenja pikiran
tentang lelaki adalah 'kegagahan dan kesebetan', tapi
ia oendjokkan didalem doenia banjak jang lojo. Marikalah
jang haroes memake obatnja, soepaja mendjadi gagah kembali."
(44)
(44) Efficienci dagang, tahun
1937.
Ketiga, iklan harus mampu secara cepat diidentifikasikan
oleh khalayak sasarannya sebagai produk khusus untuk
mereka. Contoh yang menarik misalnya Bedak merk Virgin.
Ilustrasinya adalah seorang wanita sedang bercermin
di depan kaca, menggunakan bedak Virgin. Teks iklannya
pun langsung diarahkan pada kebutuhan segmen pasarnya,
yaitu wanita.
Bedak Virgin djika dipake tiap hari, bikin paras moeka
djadi poetih bersih, tjantik dan terhindar dari segala
noda dan djerawat.
BELAJAR DARI PENGALAMAN BANGSA LAIN
Diperkenalkannya metode dan teknik baru periklanan
di Indonesia, telah menyebabkan banyak perusahaan kecil
dan menengah tumbuh menjadi perusahaan besar. Mereka
umumnya mempelajari teknik-teknik baru periklanan dari
negara-negara maju. Peran periklanan pun menjadi semakin
penting, sebagaimana ditulis dalam Efficiency Maanblad:
Holland poenja indoestri madjoe.
Amerika poenja indoestri besar. Japan poenja indoestri
semingkin besar.
Apakah itoe boekan sebagian oleh reclame poenja djasa?
Makna tulisan itu memang sangat relevan dengan data
keuntungan yang diperoleh berbagai perusahaan yang mempromosikan
produknya melalui iklan. Berikut ini contoh tingkat
laba tahunan dari beberapa jenis produk yang beriklan,
dalam kurun 1930-an.
Obat, sabun dan shampo f. 837.000
Tekstil f.
685.000
Mobil
f. 358.000
Bier f.
293.000
Makanan f.
126.000
Pasta gigi f.
101.000 (45)
(45) W.H. Van Baarle, Reclame kunde
en Reclame H.E. Stenfert Kroese N.V., Leider 1956, hlm.
20-23.
Dapat dikatakan, bahwa pada kurun
1930-1942, periklanan adalah sebuah pengetahuan modern
yang menjadi pendorong utama untuk suksesnya suatu usaha.
Periklanan bahkan menjadi alat distribusi yang mampu
menerobos pasar dengan cara yang sangat ekonomis.
|