Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



UPAYA MENGAKRABI KHALAYAK SASARAN

Dari beberapa jenis produk yang dipasarkan oleh pengusaha Eropa, keturunan Cina dan pribumi, sudah terlihat pula adanya upaya untuk mengsegmentasikan khalayak sasaran untuk masing-masing jenis produk.

Ini terlihat dari beberapa iklan perusahaan besar yang umumnya dimiliki oleh pengusaha Eropa. Misalnya, perusahaan mobil Chrysler yang diimpor oleh Fuchs & Rens Ltd. Perusahaan ini menggunakan jasa perusahaan periklanan Succes. Masa itu, mobil sangat dibutuhkan oleh para eksekutif perkebunan, pedagang atau residen (bupati), karena merekalah yang paling banyak melakukan perjalanan jauh. Perusahaan periklanan Succes pun tahu betul, bahwa orang-orang Eropa yang tinggal di Indonesia sebagai sasaran utama iklan ini, telah cukup mengenal reputasi Chrysler. Karena itu, iklannya ternyata sangat efektif, meskipun dengan teks yang "hanya" berbunyi; Chrysler, auto paling baek boeat perdjalanan djaoe.

IKLAN PROMOSI PENJUALAN

Ringkas dan sederhananya iklan untuk Chrysler berbeda dengan produk Eropa lain, seperti Bier Itam Serimpi produksi perusahaan minuman Archipel Brouwerij, Jakarta. Produk ini pada dasarnya adalah konsumsi masyarakat Eropa, namun sejak awal abad ke-20 dikonsumsi juga oleh masyarakat pribumi. Iklan-iklan bir ini ternyata bukan saja dibuat sangat jelas dan panjang, tetapi perlu pula melakukan consumer promotion (promosi penjualan terhadap konsumennya). Seperti lainnya iklan-iklan promosi konsumen, bir hitam Serimpi pun melengkapi informasinya dengan mekanisme cara keikut-sertaan. Iklan ini menggunakan ilustrasi 12 macam atraksi wanita penari serimpi, dan berhadiah uang tunai f.500,- untuk setiap pembelian tiga botol. Teks iklan promosi kepada konsumen tersebut cukup panjang, karena ia memang perlu menjelaskan mekasnisme keikutsertaannya:

Disini Toean dan Njonja liat toekang menari dalam 12 matjem sikep. Sekarang kita madjoeken pertanjaan pada Toean dan Njonja:
Apa Toean dan Njonja bisa liat sikep mana jang sama dengen sikapnja itoe toekang menari diatas etiket dari bier item tjap Serimpi?
Boeat kenalin itoe ada tida begitoe soesah, kaloe Toean dan Njonja belon kenal ini bier item tjap Serimpi, ini tebakan ada tidak begitoe soeker. Ini Toean dan Njonja moesti berboeat:
Pesenlah lantes tiga botol bier item tjap Serimpi di waroeng. (Kaloe kebetoelan ia belon ada sedia, kirimkanlah pada kita bon No.1 jang dibawahini dan kita nanti berdaja soepaja Toean dan Njonja bisa ikoet ini tebakan). Tjopotin itoe etiket-etiket dengen aer dari botolnja masing-masing, dan toelislah dalem bon No.2, toekang menari mana jang tergambar diatas jang sikepnja sama dengen sikepnja itoe toekang menari diatas etiket.
Isi Toean dan Njonja poenja nama dan adres dan kirimkanlah bin itoe, diberikoetin dengen 3 atiket bier item tjap Serimpi kepada:
Serimpi Postbus 25, Batvia. (35)

(35) Economic Weekblad, 16 October 1935.

Iklan di atas berlatar belakang ilustrasi seorang pria berbadan besar sedang mengangkat barbel dan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Selain itu juga terpampang tulisan besar; Apa toean dan njonja kenal itoe toekang menari dari boer item tjap Serimpi.

Seperti juga promosi di jaman modern, iklan promosi Serimpi juga mengkaitkan hadiah dengan pembelian barang. Kemungkinan didorong oleh ketatnya persaingan. Karena pada masa itu, diperkirakan terdapat 10 perusahaan bir. Di antaranya, yang terkenal adalah Becks Bier, Java Bier dan Bier Itam Cap Ajam. Semuanya berproduksi dengan lisensi Eropa. Sedangkan mekanisme penyelenggaraannya kemungkinan besar mengikuti pola penarikan undian (loterij) yang mulai berkembang di Hindia tahun 1020-an.Iklan promosi Serimpi tersebut ternyata sangat sukses, sebagaimana tertulis dalam Economic Weekblad.

Pembatja poen soedah mengetahoei bagaimana pada pendjoeal loterij oerang2 besar pada bereboet beli. Gedong-gedong Escompto sampei perloe dilindoengi polisi, sebab sampai penoeh orang jang beli loterij pada waktoe didjoeal. Kerna berpengharapan rata-rata adalah barangkali kebroentoengan jang bagoes mampir pada dirinja. (36)

(35) Economic Weekblad, 25 Agustus 1933.

Sementara itu, produk bir lain yang bermerek Ajam, menampilkan ilustrasi seorang pria pribumi yang setelah bekerja keras, membutuhkan sebotol bir cap Ajam. Dari keseluruhan tampilan iklan ini diduga, bahwa bir cap Ajam diposisikan sebagai pemulih kesegaran bagi pria yang macho, rasanya, enak dan memberi manfaat jika diminum secara teratur. Ilustrasi yang menggunakan pria sebagai model serta teks iklan ini, menjelaskan dugaan tersebut:

Kapan saja toean lihat dia, hari Minggoe waktoe habis boelan, maoepoen hari Senen waktoe boelan toea, selamanja ia didalam keadaan baik, selamanja radjin bekerja. Apa toean taoe tjaranja ia hidoep? Saban hari ia minoem satoe botol bir item tjap ajam, bier jang mengasih tenaga baroe dan mengasih lebih dari tjoekop kemaoean bekerdja-goembira hidoepnja oentoek dapat merasakan kanikmatan hidoep sehabisnja bakerdja berat. (37)

(37) Maandbald Efficiency, Augustus 1939.

Berbeda dengan iklan-iklan minuman di atas, iklan-iklan produk industri yang diimpor dari negeri-negeri Eropa seperti arloji dan radio, justru hanya menampilkan pesan-pesan sederhana. Meskipun demikian, mereka umumnya berhasil menyajikan ilustrasi yang menarik untuk calon konsumennya. Contohnya, iklan arloji Tawiza:

Horloge jang sederhana, tapi djempol. Satoe horloge jang indah boeat tiap-tiap hari. Bikinan Zwitserland jang koeat betoel. Amanat rendah harganja.

Ilustrasi iklan ini memperagakan dua jenis arloji, bulat dan kotak, dan secara terinci memperagakan jarum-jarum jam, menit dan detiknya. Sebenarnya, ilustrasi iklan hingga demikian rinci untuk zaman itu, masih dianggap sangat rumit.

Namun kebolehan perancangnya telah menyebabkan citra produk yang diperoleh Tawiza dari para calon pembelinya sangat positif dan unik. Dalam pengertian, ia tidak melulu menekankan pada aspek persuasifnya, namun lebih menekankan pada aspek gengsi. Pada masa itu, citra arloji buatan Swiss memang mempunyai mutu dan nilai yang sangat tinggi.Hal yang sama dilakukan pula oleh perusahaan elektronika terkemuka Philips, yang mengiklankan produk radionya. Ilustrasi iklan ini cukup sederhana, yaitu sebuah radio berbentuk kotak. Teks iklan ini hanya menyebutkan:


Persediaan compleet dari Philips en Erres Radio's model 1930-an:
Pembajaran tjitjilan f. 3,50 seboelan.

Baik rancangan iklan arloji maupun iklan radio di atas, menggunakan jasa perusahaan periklanan.




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››