Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



UPAYA "MEMPOSISIKAN" PRODUK

Periode 1930-1942 juga merupakan awal pulihnya perekonomian Hindia Belanda dari akibat pengaruh depresi ekonomi dunia. Perusahaan-perusahaan periklanan pun mulai bergairah kembali, bahkan mulai terlihat kecanggihan teknologi periklanan. Meskipun istilah "memposisikan produk/merek" itu sendiri mungkin belum dikenal, namun dalam praktekya, sudah ada yang melakukannya. Beberapa perusahaan periklanan telah menerapkan product/brand positioning (memposisikan produk/merek agar dipersepsi-kan secara unik dan khas di benak khalayak sasarannya) pada iklan-iklan yang mereka ciptakan. Perusahaan periklanan Sucess misalnya, memposisikan kliennya, Philips, sebagai merek untuk produk-produk yang sangat ekonomis. Ia mengungkapkannya dalam slogan yang terkenal; Menjimpen banjak oeang ataoe pembajaran stroom.

Begitu pula dengan iklan Listerine yang diposisikan sebagai pasta gigi paling cepat mengatasi masalah-masalah gigi. Produk ini kemudian menjadi populer dengan slogan;

Sesoenggoehnja, saja poenja gigi mendjadi lebih baik dalam tempo 6 hari.
Teks iklannya memperkuat tujuan memposisikan produk tersebut:

Dimana-mana mendjadi pokok pembitjaraan...ialah tjaranja ini obat gosok gigi lebih baik. Ia dibikinnja menoeroet adonan jang loear biasa, soeatoe tjampoeran dari bahan-bahan oentoek membikin bersih dan mengkilap jang tida ada bandingannja. Lebih berfaedah dari pada obat-obat gosok gigi jang laen. Tida heran jang ia membasmi 5 hal
jang mengganggoe ketjantikan. Gigi jang soesah dibikin bersih lantas kelihatan lebih baik. Gigi-gigi jang boerek menjadi bertjahaja dan mengkilap sesoedah digosok satoe atau doea kali. Noda-noda hilang sebagai disoenglap. Rasa perih tersebab lidah petjah linjap. Isit mendjadi koekoeh.
Tjobalah sekarang djoega satoe tube. Lihat bagaimana lekas Toean poenja gigi kelihatan lebih baik. (30)

(30) Economic Weekblad, 9 January 1934.

Iklan Listerine ini menggunakan model pria Eropa yang tersenyum lebar, mempe rtontonkan giginya yang sehat, putih dan bersih.

Hingga tahun 1940-an pasar Hindia Belanda pada umumnya sangat didominasi oleh produk-produk manufaktur. Baik yang diimpor dari Eropa, Jepang atau Amerika Serikat,maupun produksi Hindia Belanda. Kategori produk-produk ini berinti pada jenis kebutuhan sehari-hari atau industri perumahan, seperti batik dan rokok kretek.

Depresi ekonomi yang terjadi pada periode sebelumnya, rupanya juga memukul beberapa jenis industri di negeri Belanda. Perusahaan tekstil Twente di Balanda misalnya, mengalami kejenuhan pemasaran di Eropa, sehingga perlu merelokasi industri ini ke Hindia Belanda maupun daerah-daerah jajahannya yang lain.

Industri yang memerlukan banyak tenaga kerja ini, memilih Jawa Barat seabagi lokasi barunya. Selain itu, ada pula ancaman dari Jepang yang memberlakukan kebijaksanaan kuota terhadap impor tekstil dari negeri-negeri Eropa atau jajahannya.

Kondisi ini tentu saja mendukung perkembangan produksi tekstil di Hindia Belanda. Jumlah pabrik tekstil yang pada tahun 1930 hanya sekitar 90, pada tahun 1937 telah menjadi 123. Hal ini berlangsung terus hingga saat pecahnya Perang Dunia ke-2. Pabrik-pabrik tekstil dengan teknologi mesin yang lebih canggih ini, seluruhnya dimiliki oleh orang-orang Cina atau Eropa. Kecuali beberapa industri perumahan yang maih menggunakan teknologi tenun tangan. (31)

(31) John o Sutter. Indonesianisasi: Politics in a Changuis. Economiy, 1940-1955, Cornell Univercity Perss Vol.I, 1959, hlm.42.

Dalam kaitan ini, seorang sarjana Belanda melaporkan:
In 1935 and later years, in Regency of Bandung, many Indonesian traders and landowners invested money in the weaving industry. It was only later, when this industry had demonstrated its vitality, that foreigners, the Chinese included, began to show an interest. And although the danger arose here, too, that the small Indonesian enterpreneurs would become dependent upon foreign middlemen, in this field they managed to retain a high degree of independence and a much larger share of the invested capital tahn in other middle class occupations, right up to the outbreak of the Second World War. (32)

(32) W.F. Wertheim. Indonesian Society in Transition: A Study of Social Change, The Hague: Van  Hocve, 1959, hlm.iii

Hal ini sangat berbeda dengan perusahaan Kleemakerij (penjahit pakaian) produksi Kiem Bie. Bahkan perusahaan ini menggunakan jasa perusahaan periklanan terbesar pula di masa itu, yakni Succes. Bandingkanlah teks iklan Sampoerna dengan teks iklan Kiem Bie berikut ini:

Soedah sedari beberapa taon sampe sekarang kita ada oesaha ken kleermakerij dengen lakoekan pekerdja'an membikin berbagi-bagi pakean. Segala pakean dibikin menoeroet kainginannja pemesen, samentara potongan dan model senantiasa up to date, mentjotjoki aliran djaman, sehingga boekan sadja Toean jang memake merasa poeas, tetapi djoega laen orang jang meliat nistjaja merasa senang dan ketarik hatinya. (33)

 

(33) Economic Weekblad, 8 February 1939.

Untuk lebih menarik para calon konsumen, Kiem Bie menampilkan ilustrasi dua pria Eropa. Salah satu memakai jas, topi dan bertongkat, sedangkan yang lain memakai jas dengan dasi kupu-kupu. Teks yang mengiringi ilustrasi ini adalah; Pakean officieel model taon 1939.

Demikian pula halnya dengan industri rokok di Jawa yang berpusat di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang awalnya adalah industri rumah tangga kemudian polanya bergerak menjadi produksi pabrik. Kebanyakan industri rokok ini dimiliki oleh orang-orang keturunan Cina.

Selama empat tahun (1929-1933), tingkat pertumbuhan produksi rokok terus meningkat yakni, dari 10% hingga 36%.(34) Selain rokok, pada tahun 1935, para pengusaha keturunan Cina memasuki juga industri-industri lain yang berskala menengah. Di antaranya garmen, obat-obatan, percetakan dan sabun. Sebaliknya pengusaha-pengusaha Belanda tetap mempertahankan industri skala atas dan menengah. Yang termasuk industri-industri skala atas dan menengah saat itu antara lain; mobil, bank, radio, bir, biskuit, perhotelan dan jam. Usaha-usaha manufkatur kaum pribumi sendiri tetap terbatas pada produk-produk skala kecil, seperti batik, penjahit dan rokok klobot.

(34) Ibid. John O. Setter, Indonesianisasi Vol. I, 1959, hal. 45-48




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››