
SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA
1744 - 1984
Depresi ekonomi dunia tahun 1929-1930 mempunyai dampak
sangat luas, termasuk terhadap industri periklanan di
Hindia Belanda. Banyak perusahaan asing terpaksa menghentikan
kampanye periklanannya. Utamanya, karena merosotnya
pemasaran produk-produk mereka. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan
periklanan kecil masih dapat bertahan, karena klien-klien
merekapun umumnya adalah dari industri kecil, seperti
rokok, sabun dan bedak. Periode ini juga ditandai dengan
dimulai munculnya tulisan-tulisan tentang periklanan
dan tentang perlunya ditingkatkannya efisiensi dalam
pemasaran. Banyak pula jurnal atau suratkabar yang meliput
keberhasilan pengusaha-pengusaha terkenal dalam mengelola
perusahaanya berkat periklanan. Berikut ini adalah kutipan
dari sebuah artikel yang ditulis dalam majalah Economie
bald, 12 Juni 1932:
Seperti baroe-baroe ini kita soedah pernah toelis
dalam ini madjalah tentang: pekerdjaan Colpourteur boeat
mencari advertentie, moesti bisa poeter lidah begitoe
manis, lemah-lemboet, omongan roepa-roepa hal jang bisa
menarik si bakal advertender dengan kasihken matjam-matjam
alesan dikasih mengerti,bahwa memoeat advertentie dalam
soerat kabar atawa madjalah ada sebagai reclame boeat
dapatkan perhatian dari pembeli. Tidak djarang sesoeatoe
Colpourteur koedoe datang sampe doea of tiga kali boeat
"ngesweek" si bakal advertender, maski begitoe
toch belon tentoe orang soeka masoekkan advertentie.
IKLAN "JENIS BARU"
Tahun 1930, beberapa iklan dari jenis "baru"
mulai dikenal. Antara lain, iklan pencari kerja, pernikahan,
kematian dan iklan travel (perjalanan). Iklan jenis
terakhir ini menawarkan tur keliling dunia dari perusahaan
jasa periklanan Java-China-Japan Lijn N.V. Sejak tahun
itu pula menjamur kembali tumbuhnya perusahaan-perusahaan
periklanan baru. Sebagian besar milik keturunan Cina,
seperti Lam Kong & Co. dan NV Kian Kwan yang berdomisili
di Semarang. Perusahaan periklanan milik orang Eropa
yang muncul dalam periode itu adalah Succes, yang berdomisili
di dua kota, Jakarta maupun Semarang.
SISTEM PERDAGANGAN
Untuk mengenal lebih nyata usaha-usaha periklanan, perlu
disimak sistem perdagangan yang terjadi antara tahun-tahun
1930 hingga 1942. Dalam periode ini, mulai masuk secara
besar-besaran komoditi impor dari Eropa seperti mobil
Ford, radio Philips, serta beberapa merek arloji, susu
dan minuman kesehatan. Penerapan etika iklan pun mempunyai
perbedaan dengan situasi tahun 1920-an.
Sistem perdagangan saat itu, secara tegas memisahkan
dua sub-sistem. Sub-sistem pertama adalah kegiatan memproduksi
komoditi atau produk, dan sub-sistem kedua adalah kegiatan
mendistribusikannya. Kalau sekarang periklanan merupakan
sub-sistem dari Perdagangan atau komponen Pemasaran,
pada masa Hindia Belanda periklanan adalah komponen
dari sub-sistem Distribusi. Selain itu, di masa Hindia
Belanda, masyarakat menggunakan uang semata-mata sebagai
alat berjual-beli.

KIAT USAHAWAN
Keberhasilan usaha karena kemampuan membina relasi,
mulai dikenal dalam periode tahun 1930-1942 ini. Dalam
penerbitan Maanblad Efficiency, Januari 1936 dimuat
artikel tentang George C. Rogers, seorang pengusaha
Eropa yang berhasil:
Itoe kake2 poenja nama George C. Rodgers.
Ia ini waktoe soedah beroesia 89 taon. Ia telah moelai
berniaga sendiri pada taon berselang dan ia soedah berhasil
lakoeken dengan succes ia poenja perniagaan itoe.
Sedang tentang kiat suksesnya, dikutipkan kata-kata
pengusaha ini:
Akoe soedah kenal banjak akoe poenja langganan2 sadari
marika masih mendjadi anak2. Marika kasihken akoe banjak
pertoeloengan dan kefaedahan. Marika ada sobat2 lama,
sobat2 jang setia dalem doenia dagang.

Ungkapan George C. Rodgers tersebut
menegaskan, bahwa keberhasilan usahanya banyak ditunjang
oleh hubungannya yang erat dengan para pedagang pelaku.
Lebih lagi, karena penerbitan yang memuat artikel tersebut
terkenal mempunyai motto; siapa tidak masoek advertentie,
sebagi tidak taoe redjekinja.
MENGAKUI KEAMPUHAN IKLAN
Contoh lain yang menunjukkan sukses suatu usaha karena
beriklan, adalah dari Vauxhall Motors Ltd. Pada masa
itu saja, perusahaan ini telah berhasil memperoleh keuntungan
bersih sekitar £. 1.000.000 setahun. Kecuali manajemen
yang baik, kunci keberhasilan perusahaan ini juga karena
kepercayaannya yang tinggi pada peran dan fungsi iklan
bagi pemasaran produk-produknya.
Dalam penerbitan Maanblad Efficiency, Juni 1936 Vauxhall
Motors Ltd., menulis:
Vauxhall Coy, seperti jang laen-laen djoega,kaloe
tida djalankan itoe beroepa-roepa methode ,plan, organisatie,
daja-oepaja jang teratoer beres,soedah tentoe tidak
poenja kans boeat beroleh itoe matjem kaoentoengan jang
enak dan bikin tersenjum sasoatoe orang jang meraseken.
Dari itoe sekalian toean2 soedagar, tida boleh peloek
dengkoel sadja dan mengandelken keoentoengan belaka,
tetapi goenakanlah advertentie.
Pada masa itu, pengertian "keuntungan" bagi
suatu usaha kira-kira sama dengan konsepsi "penjualan"
yang digunakan pada praktisi pemasaran saat ini.
UNSUR BERITA PADA IKLAN
Unsur news atau "berita" pada teks iklan,
baru ditemui pada tahun 1932, dilakukan oleh perusahaan
periklanan Liem Eng Tjiang & Co. pada iklan berikut:
Sekarang Soedah Sedia!!!
Obat penoeloeng boeat sakit panas atau demem. Jaitoe:
Obat Tjap Panah. Harganja satoe boengkoes tjoema f.
0,05 (lima cent). Boeat di loewar Semarang pesenan paling
sedikit 20 boengkoes. Lain ongkos kirim, pesenan terkirim
dengen rembours. Boleh dapat beli atau pesen pada: tan
Giok Djiang, Kranggan, Semarang.(29)
(29) Oetoesan Hindia, 22 September
1919.

Pada iklan diatas, hanya ada satu ungkapan yang bersifat
persuasif, yaitu kata "tjoema'. Tetapi unsur berita,
meskipun pada kadar yang paling sederhana, dinyatakan
dengan kata-kata "Sekarang soedah sedia" yang
mereka gunakan sebagai headline.
|