
UPAYA
PERTAMA MENEGAKKAN ETIKA
Van Oosterzee & Co.,
merupakan anggota masyarakat periklanan pertama yang menaruh
perhatian pada etika periklanan. Dalam suratkabar Batavia
Nieuwsblad edisi 14 November 1922, dimuat lengkap bagian
inti suratnya kepada pimpinan perusahaan periklanannya,
Albrecht & Co.:
De nieuwe etiketten zijn juist in
mijn bezit gekomen: het wapen in kleurendruk is bijzonder
goed geslaagd en bet geheel ziet er boven verwachting
artistiek en deftig uit, zoodat ik U wel mijn compliment
moet maken over dit fijne en kunstvolle werk, dat ik
in Europa
niet better zag. Ook getuigt het gebeel van zeer gedistingeerden
smaak. K moet U aanraden aan uwe zaak meer publiciteit
te geven: velen kennen Uwe firma hier nog niet. Ook
de prijs is niet te hoog. (18)
(18) Batavia Nieuwssblad, 14 November 1922.
Surat J.J. van Oosterzee, pimpinan Van
Oosterzee & Co., ini sebenarnya berisi pujian atas
prestasi kerja perusahaan periklanan tersebut, namun
sekaligus juga menyampaikan pesan agar dalam mengiklankan
produk-produk Van Oosterzee & Co., Albrecht &
Co., memperhatikan pula etika periklanan.
Van Oosterzee & Co., mengusulkan
pendekatan baru dalam beriklan, dengan menerapkan etika
yang sesuai dengan perubahan jaman di Hindia Belanda.
Ia juga mengusulkan format artistik baru yang dapat
merangsang para calon konsumen untuk membeli produk
yang diiklankan. Dengan menerapkan etika dan artistik
baru tersebut, menurut dia, biaya iklan justru akan
lebih efisien.
Belakangan diketahui, bahwa Van Oosterzee & Co.,
melakukan hal itu sejalan dengan kecenderungan yang
terjadi di negeri Belanda sendiri.
PERIKLANAN SEBAGAI INDUSTRI

Sebagai perusahaan periklanan terbesar
setelah Aneta, Albrecht & Co., yang sudah berdiri
sejak 1895 itu, transaksinya pada tahun 1910 telah mencapai
f.600.000, tahun 1920 sebesar f.850.000 dan tahun 1925
menjadi f.1.200.000.
(19) Dengan tingkat keuntungan yang juga cukup besar, usaha periklanan di masa itu oleh banyak usahawan sudah disejajarkan dengan industri.
Lebih lagi, karena periklanan telah menjadi
kebutuhan usahawan dan masyarakat, karena memperoleh
dukungan langsung dari berkembangnya industri dan pasar
secara keseluruhan.
Itu pula sebabnya, perusahaan-perusahaan
periklanan kecil pun, yang telah berkembang sebelumnya
juga dapat tetap hidup dan tumbuh. Di antara perusahaan-perusahaan
periklanan kecil ini yang menonjol adalah Handelsblad
dan Marchesa-Port, dan yang khusus bergerak dalam mencari
tenaga kerja seperti Bezuiningen, ataupun Werving milik
Raden Goenawan di Jakarta.
IKLAN PERTAMA TENTANG PERUSAHAAN PERIKLANAN
Sebagai perusahaan periklanan yang cukup
besar N.V. Algemeen Reclame Bureau Excelsior tercatat
yang pertama mengiklankan dirinya sendiri. Iklannya
berisi kata-kata:

Geachte lexers
en Lezeressen! Deze meneer is er van zessen, Die Met
zijn deftig voorkomen en zijn mooie das, Geregeld bij
U zal komen en altijd juist van pas Om uwe belangen
te berhadingen, door U te inviteeren. Bij het Reclame
Bureau Excelsior te adverteeren; lets wat men stelling
aan zoon'n voorkomend man, dan ook absoluut niet weigeren
mag of kan. Trouwens deze recommendatie ia overboding.
Uw eigen overtuiging
zegt U: Het is nooding.(20)
(20) Reclame-Album uitgever door de N.V. Algemeen Reclame Bureau "Excelisior". Bandoeng 1902, hlm.25.
Teks iklan mereka menunjukkan, bahwa
Excelsior pun telah berupaya ikut menegakkan etika periklanan.
Dan bahwa para perusahaan iklan dengan gaya persuasinya
tidak menipu para calon konsumen.
Excelsior banyak merancang iklan hotel, seperti hotel
Wilhemina dan hotel Homann, yang merupakan dua terbesar
di Bandung. Sedangkan produk-produk otomotif yang mereka
tangani antara lain adalah Peugeot Motor dan General
Motors.
Memasang iklan melalui Excelsior sebenarnya
relatif mahal. Saat itu memang belum dikenal adanya
pemisahan biaya untuk memproduksi materi iklan dengan
biaya pemasangannya di media-media. Karena itu, untuk
iklan display (bergambar dan besar) yang umumnya memang
dibuat menarik dan sangat artistik, mereka berani memasang
tarif lebih tinggi. Biaya memproduksi dan pemasangannya
di suratkabar, biasanya mereka kenakan tarif f. 35,-(21)
(21) Ibid., hlm.32.
Pada awal abad ke-20 itu, perusahaan-perusahaan
periklanan yang menonjol tetapi dianggap kecil serta
tahun berdirinya, adalah Liem Kim Hok, 1901, Biro Lauw
Tjin, 1905, Bureau voor Indische Agenture & Reclames,
1917, Algemeen Advertentie, 1918. Mereka dapat bersaing
dengan perusahaan-perusahaan periklanan besar dengan
mengkonsentrasikan lahan usahanya pada suratkabar-suratkabar
menengah di kecil pula. Mereka pada masa itu dianggap
suratkabar-suratkabar kecil, karena iklannya masih sedikit.
Padahal suratkabar-suratkabar ini sebenarnya punya tiras
yang cukup besar, karena di antaranya termasuk Sinar
Hindia, Oetoesan Hindia, Sinar Djawa, Medan Moeslimin
dan De Locomotief.
Karena itu, untuk mengetahui secara lebih mendalam situasi
dan kondisi perusahaan periklanan Hindia Belanda pada
periode 1917-1942 tersebut, diperlukan pendekatan terhadap
berbagai aspek lain diluar yang tercatat pada laporan-laporan
beberapa penerbitan di masa itu.
TIGA SERANGKAI :
SURAT KABAR, PERCETAKAN DAN PERIKLAN
Hingga kurun waktu ini pun kehidupan
usaha periklanan sangat terpengaruh oleh kehidupan suratkabar.
Utamanya pada suratkabar-suratkabar yang tirasnya cukup
besar. Baik yang dimiliki oleh orang-orang Belanda,
maupun yang dimiliki oleh orang-orang pribumi, seperti
Sinar Hindia, Oetoesan Hindia atau Medan Moeslimin dan
Masa Baroe. Suratkabar-suratkabar sendiri kehidupan
dan pertumbuhannya sangat tergantung pula pada adanya
fasilitas percetakannya. Situasi ini menyebabkan sulit
orang memastikan "siapa menghidupi siapa"
dari ketiga industri ini. Itu pula sebabnya pada saat
itu kebanyakan percetakan justru sekaligus merupakan
penerbit suratkabar. Kondisi ini tentu berbeda dengan
kalau penerbit suratkabar yang memiliki sendiri percetakan.
Tidak mengherankan kalau di masa itu, banyak pesanan
pemasangan iklan yang justru harus dikirim langsung
ke percetakan, yang memang berstatus pula sebagai penerbit
suratkabar.
TARIF SESUAI TIRAS DAN FASILITAS SPLIT-RUN
Situasi ini berdampak pula pada kebijaksanaan
penetapan tarif iklan, yaitu berdasarkan jumlah tiras
yang akan dicetak oleh suratkabar yang bersangkutan.
Bukan berdasarkan kemampuan rata-rata dari suratkabar
menjual tiras-tirasnya yang sudah lalu, seperti yang
dipraktekkan saat sekarang. Ini berarti, tarif pemasangan
iklan sebenarnya dapat ditentukan juga oleh permintaan
jumlah tiras dari perusahaan periklanan atau pengiklan.
Meskipun konsepsi pembelian media seperti itu bagi industri
periklanan, tampaknya justru lebih maju dari situasi
sekarang, namun sebenarnya hal itu dilakukan semata-mata
karena terbatasnya teknologi dan kapasitas percetakan
suratkabar.
Keterbatasan percetakan, sarana distribusi
dan adanya kebutuhan-kebutuhan tertentu periklanan,
bahkan telah memaksa para penerbit suratkabar menerapkan
konsep pembelian ruang iklan berdasarkan apa yang dalam
istilah periklanan jaman modern dikenal dengan split
run. Split-run ini mereka lakukan terhadap edisi kota-terbit,
edisi Pulau Jawa, dan edisi daerah-daerah lainnya. Java
Bode misalnya, sebagai salah satu suratkabar yang mendapat
dukungan dari perusahaan periklanan terbesar Aneta,
menawarkan harga iklan yang cukup mahal, untuk masing-masing
wilayah distribusinya. Untuk distribusi Batavia f.4.50,-/baris,
Pulau Jawa f.4.75,-/baris dan Luar Jawa f.5.25,-/baris.
(22) Albrect & Co., menawarkan harga pemasangan
iklan yang tidak jauh berbeda, yaitu f.4.25,-/baris
untuk iklan biasa, dan f.5.65,- untuk pemasangan iklan
bergambar. Namun berbeda dengan Aneta, klien-klien perusahaan
periklanan ini lebih banyak produk-produk untuk konsumsi
orang Eropa. Misalnya, sepeda, mobil, perhotelan dan
beberapa jenis minuman. Berbeda lagi, Albrecht &
Co., lebih banyak menggunakan suratkabar Bataviasch
Handelsblad.
Tarif-tarif di atas relatif sangat mahal,
dibandingkan dengan yang dikenakan oleh perusahaan-perusahaan
periklanan menengah seperti Bureau voor Indische Agentures
& Reclames (BIAR) yang didirikan tahun 1923. Perusahaan
periklanan ini menawarkan tarif iklan yang cukup murah,
sebagimana tercantum dalam iklan perkenalannya:
Advertentieblad disiarkan dengen gratis boeat sementara
waktoe. Harga advertentie sekali moeat sedikitnya f.
2,-. Berlengganan harga menjenengkan.
Hal lain yang dapat dijadikan rujukan
adalah, jumlah dan jenis iklan yang dimuat di masing-masing
suratkabar tersebut, yang menggambarkan tingkat persaingan
diantara para produsen. Dari sini terlihat pula macam-macam
komoditi atau produk yang lebih diminati masyarakat.
PERUSAHAAN PERIKLANAN SEBAGAI AGEN
DISTRIBUSI PRODUK
Sebagai perusahaan periklanan, BIAR
ternyata juga menjadi agen produk-produk yang ditanganinya.
Hal ini dapat terlihat dalam salah satu iklannya:
Nederlandsche Kroon.Sesoeatoe merk
speda jang soedah populair dan tidak asing lagi. Sedia
oekoeran matjem-matjem Harga f. 65,- countant. Bisa
dapat beli di kantooe B.I.A.R Karrenweg 31-Semarang.(23)
(23) Bureau Voor Indische Agenture Reclames, 23 Agustus 1923.
Kenyataan ini juga menunjukkan perbedaan
lain antara perusahaan periklanan yang besar dan yang
menengah. Perusahaan periklanan besar selain telah mampu
memproduksi sendiri bahan-bahan iklan untuk para kliennya,
juga mendistribusikan iklan-iklan tersebut di beberapa
suratkabar besar. Sedangkan perusahaan periklanan skala
menengah, selain sekedar kolportir iklan suratkabar-suratkabar,
terpaksa harus pula menjadi agen langsung dari produk-produk
kliennya.
Perusahaan-perusahaan periklanan menengah
umumnya menggunakan suratkabar-suratkabar yang tirasnya
sekitar 2500 hingga 3000 eksemplar, seperti Indische
Courant atau suratkabar-suratkabar yang dimiliki oleh
kaum pribumi seperti, Oetoesan Hindia, Sinar Djawa dan
Sinar Hindia.
MUNCULNYA PERUSAHAAN PERIKLANAN KECILl
Tidak lama setelah munculnya perusahaan-perusahaan
besar dan menengah, tumbuh pula perusahaan-perusahaan
periklanan kecil yang dipelopori oleh para keturunan
Cina. (24) Kemunculan mereka sebenarnya diawali dengan
timbulnya kebutuhan untuk mengiklankan buku-buku kecil
atau cerita bersambung yang mereka cetak. (25)
Perusahaan periklanan pertama yang dimiliki
oleh keturunan Cina adalah NV Tjong Hok Long pada tahun
1901 yang kemudian diikuti oleh Bureau Reklame Lauw
Djin yang keduanya berdomisili di Solo. Selanjutnya
disusul oleh perusahaan-perusahaan periklanan Liem Eng
Tjang & Co., Tjioe Twan Ling dan Ko Tioen Siang.
Tiga yang terakhir ini berdomisili di Semarang. Tjong
Hok Long dan Lauw Djin pada awalnya banyak memproduksi
iklan-iklan batik yang tergabung dalam perusahaan Kong
Sing. Modal maupun peralatan produksi perusahaan-perusahaan
periklanan ini masih sangat sederhana. Iklan-iklan yang
dihasilkan umumnya tetap menggunakan tulisan tangan,
dan produk-produk yang diiklankan terbatas pada kebutuhan
masyarakat sehari-hari, seperti batik, sabun, rokok
dan obat-obatan. Contoh usaha rangkap perusahaan periklanan
yang juga sebagai Agen distribusi produk ini, dapat
ditemui dari salah satu iklan yang dimuat di suratkabar
Sinar Djawa:

Pakelah selaloe, Obat boeatan Tjina "Gono-Cure".Sesoeatoe
obat (radjanja obat) oentoek sakit peroet.
Soedah terkenal di seloereoeh Hindia.
Harga 1 flesch besar f.1.50,-. Harga 1 flesch ketjil
f.1,-Merk "Sam Kok'. Toko Obat Tionghoa. No.29
Kbrabon, Solo
Dan dapat diperoleh langsoeng di N.V. Tjiong Hok Long.(26)
(26) Sinar Djawa, 66 Juli 1914.
Upaya mengiklankan diri sendiri
yang diterapkan oleh perusahaan periklanan yang bertaraf
menengah, diikuti juga oleh perusahaan periklanan kecil.
Perusahaan periklanan Tjiong Hok Long misalnya, memuat
iklannya di 1000 eksemplar suratkabar setiap harinya.
Ia menggunakan beberapa suratkabar milik pribumi maupun
keturunan Cina, seperti Sin Po dan Keng Po. Perusahaan-perusahaan
periklanan kecil banyak mendukung suratkabar-suratkabar
kecil milik pribumi yang lebih banyak memuat berita-berita
sosial dan politik.
Usai Perang Dunia I, perusahaan-perusahaan
periklanan kecil berhasil menembus suratkabar-suratkabar
bertiras besar seperti De Locomotief, Sinar Hindia atau
Oetoesan Hindia. Hal ini dimungkinkan, karena mereka
pun sudah berani menawarkan tarif pemasangan iklan yang
menguntungkan para penerbit suratkabar tersebut. Seperti
terlihat pada iklan yang dimuat di suratkabar Sinar
Hindia, misalnya:

Sepoeloeh perkataan 75 cent, satoe
baris (regel) dalam satoe kolom 20 cent boeat satoe
advertentie paling sedikit misti bajar f. 1.50,- moewat
sampai doea kali. Boewat langganan ada lebih moerah,
boleh beremboek lebih doeloe.
Tarif iklan seperti itu sebenarnya menjadi
sangat mahal jika dibandingkan dengan harga langganan
suratkabar yang hanya 15 sen. (27) Dapat dibayangkan
betapa besarnya keuntungan yang diperoleh Sinar Hindia
dari periklanan saja.
RINTISAN PERUSAHAAN PERIKLANAN PRIBUMI
Munculnya perusahaan periklanan milik
pribumi diawali dengan munculnya klien-klien perusahaan
rokok dan batik. Iklan-iklan mereka bahkan cukup maju.
Karena telah berhasil menampilkan unsur persuasinya
sejajar dengan kebutuhan informasi produknya. Khususnya
karena pada masa itu banyak orang belum menyadari, bahwa
unsur informasi bagi konsumen sama pentingnya dengan
unsur persuasi bagi produsen. Dengan perkataan lain,
ciri iklan di masa itu adalah, lebih menjadikannya sebagai
sarana informasi, akibat tidak adanya akses informasi
lain tentang produk atau produsen yang dapat diperoleh
masyarakat.
Perusahaan periklanan NV Hardjo Soediro
yang banyak menangani produk rokok, merancang iklan
berikut ini untuk suratkabar Sinar Hindia:
Rokok Klobot.
Selamanja selaloe sedia Rokok-Klobot bikinan Djokja.
Klobotnja terpilih jang moeda dan manis bikinan rapi,
boleh dapet dari tembaco Kedoe dan siloek No.I. 1000
batang model pandjang harga f.2, 1000 batang model pendek
harga f.1.60. Lain onkost kirim.
Pesenan 5000 batang dikirim franco, boleh kirim oewang
lebih doeloe atawa rembours.
Toenggoe pesenan N.V. Hardjo Soediro Djojonegaran, Djogja.
(28)
(28) Sinar Hindia, 20 Juli 1916.
Ciri sekedar meringkas informasi pada
iklan-iklan, tidak terlepas dari struktur masyarakat
dan situasi sellers market (pembeli mencari barang)
di masa itu. Lebih lagi, karena hampir seluruh produk
kebutuhan sehari-hari masyarakat, dari sabun hingga
mobil, diimpor dari Eropa, khususnya dari negeri Belanda.
Bahkan hubungan antara khalayak dan pengiklan seringkali
terasa seperti hubungan antara calon konsumen yang amatir,
dengan produsen yang profesional.
Antara periode tahun 1900-1928 belum
ditemui artikel atau tulisan yang membahas tentang peran
dan fungsi iklan yang sebenarnya. Pada masa itu, iklan
semata-mata, dimanfaatkan untuk menjual produk oleh
para produsen, dan untuk menunjang kehidupan suratkabar.
Pada periode tahun 1920-an sampai 1930-an,
terlihat juga adanya kecenderungan iklan-iklan menggunakan
model, wanita. Padahal, banyak di antara produk-produk
yang diiklankan tidak melulu ditunjukan untuk wanita.
Iklan bir Serimpi kebetulan disegmentasikan juga untuk
wanita.
|