
BROSUR-BROSUR PERTAMA UNTUK "GO PUBLIC"
Pertumbuhan iklan di jaman Hindia Belanda, sangat dipengaruhi
pula oleh masuknya modal swasta ke sektor perkebunan
dan pertambangan pada tahun 1870. Karena perkembangan
itu ternyata menumbuhkan kebutuhan baru, berupa pembentukan
lembaga-lembaga penelitian untuk mengembangkan dan mengakumulasi
modal mereka, seperti yang dilakukan oleh asosiasi perusahaan-perusahaan
gula, Suikersyndicaat, misalnya. Asosiasi ini juga bertugas
sebagai lembaga penelitian, dan sekaligus memproduksi
pula brosur-brosur sebagai wahana informasi dan promosi.
Dengan demikian, para calon penanam modal di perusahaan
perkebunan mereka mengetahui seberapa jauh rentabilitas
investasi mereka.
Javaasche Bank menggunakan barang-barang cetakan untuk
mengundang modal asing ke Hindia Belanda. Brosur dan
buklet perkenalan mereka umumnya dicetak di percetakan
G.C.T. van Dorp & Co., yang berlokasi di Jakarta,
Semarang dan Surabaya.(12)
(12) Verslag Conggress Drukpers 1914, hlm.23.


IKLAN PERTAMA KANTOR TENAGA KERJA
Masuknya modal swasta di sektor perkebunan, juga memicu
tumbuhnya iklan pemasok tenaga kerja. Tahun 1902, iklan
jenis ini muncul di suratkabar-suratkabar Sumatra Post
dan Deli Courant di Sumatra Timur (sekarang Riau), daerah
perkebunan utama masa itu. Pada iklan-iklan yang dimuat
dalam kedua suratkabar ini, mungkin terasa bahasa yang
digunakan kurang etis bagi telinga orang Indonesia sekarang.
Iklan ini kalau ditulis-ulang ke dalam bahasa Indonesia
sekarang, kira-kira berbunyi, sbb:

Tersedia tenaga kerja dari Jawa, khususnya
orang-orang yang berasal dari Bagelan (Madura). Mereka
adalah orang - orang yang kuat (flink), muda (jong)
dan sehat (gezond).
IKLAN PERTAMA PRODUK INDUSTRI
Masuknya produk-produk industri baru ke Hindia Belanda
mendorong produsennya untuk juga beriklan. Lampu penerangan
yang tidak menggunakan listrik, adalah teknologi baru
saat itu. Berikut ini adalah salah satu iklan produk
tersebut yang teksnya dibuat oleh perusahaan periklanan
dan dimunculkan di suratkabar Reclame en Reproductie.
Istilah, frasa dan gaya bahasanya pun sudah jauh berbeda
dari iklan-iklan masa sebelumnya:

Biar ditempat jang
tidak ada listrik sekalipoen, dizaman modern ini orang
tidak memakai lagi pelita.
Apa sebab?
Sebab ada lampoe jang sama terang, sama bersih dan sama
gampang seperti listrik;, jaitoe Lampoe Optimus.Sedia
roepa-roepa model, besar dan ketjil, pakai kap atau
tidak.Tidak ada orang naik hadji ke Mekah yang tidak
membawa kompor Optimus, sebab tjepat dan gampang dipakainya.(13)
(13) Reclame en Reproductie: De Zincografische processen en hunne toepassing. Albrech & Co., Weltevreden 1925.
Iklan lampu Optimus tersebut tampil menggunakan tiga
bahasa sekaligus; Indonesia, Arab dan Cina.
Terlibatnya perusahaan periklanan dalam menciptakan
iklan menandakan, bahwa pola perdagangan dan metode
pemasaran di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 itu,
telah mulai dipengaruhi pula oleh perusahaan periklanan.
Perkembangan ini mencerminkan, bahwa Hindia Belanda
telah melakukan pula adaptasi terhadap metode pemasaran
sebagaimana yang berlangsung di Eropa. Dampaknya pun
ternyata sama, yaitu mendorong terjadinya "perang
dagang". Situasi ini terkonfirmasikan dalam iklan
sabun cuci Ofi di Reclame en Reproduktie yang disajikan
secara menarik dan bergambar. Iklan ini mengandung unsur
persuasi yang kuat karena produknya "dijanjikan"
sebagai sabun cuci yang paling baik, namun dengan harga
yang murah pula. Awal abad ke-20 ditandai pula dengan
mulai bermunculannya perusahaan periklanan. Umumnya
mereka baru pada tahap sebagai kolportir iklan untuk
suratkabar. Di antara mereka ada yang mengiklankan juga
pelayanannya, lengkap dengan daftar harga untuk pemasangan
iklan di masing-masing suratkabar. Menjamurnya perusahaan
periklanan masa itu, tentu saja makin mendorong pula
perkembangan suratkabar.
Seperti di masa sekarang, perusahaan periklanan pada
masa itu pun dapat dikelompokkan dalam tiga kategori;
besar, menengah dan kecil. Perusahaan-perusahaan periklanan
besar semuanya dimiliki oleh orang-orang Belanda. Sedangkan
yang kecil umumnya dimiliki oleh keturunan Cina atau
pribumi. Menjamurnya perusahaan periklanan merangsang
pula penanam modal oleh orang-orang non-pribumi. Khususnya
untuk menerbitkan suratkabar-suratkabar baru.
Periklanan ternyata mampu menyumbangkan dana yang
memadai untuk memproduksi suratkabar-suratkabar mereka.
Hingga tahun 1912, hanya satu suratkabar yang dimiliki
pribumi. Suratkabar yang kebetulan memiliki sendiri
percetakannya ini adalah Medan Prijaji, dipimpin oleh
R.M. Tirtoadhisoerjo. Tokoh ini belakangan menjadi salah
satu perintis pers Indonesia.
Medan Prijaji banyak memuat iklan produk batik, karena
batik bukan saja merupakan pakaian sehari-hari orang
Jawa, namun juga menjadi produk yang sangat digemari
dan eksklusif bagi orang-orang Eropa. Sukses Medan Prijaji
sebagai surat kabar yang sangat ditunjang iklan, dicoba-ikuti
oleh suratkabar-suratkabar pribumi lainnya. Misalnya,
Sinar Djawa yang mulai terbit tahun 1914, yang mungkin
karena berhasil melakukan distribusinya ke luar Jawa,
dua tahun kemudian berubah nama menjadi Sinar Hindia.
Suratkabar ini pada awal hidupnya banyak ditunjang oleh
perusahaan-perusahaan periklanan milik orang Cina. Diantaranya
adalah perusahaan periklanan Liem Eng Tjiang & Co.,
yang banyak memiliki klien sabun dan kompor.
Beberapa perusahaan periklanan yang cukup mendominasi
iklan di suratkabar di Hindia Belanda saat itu, adalah
Aneta, Albrecht & Co., yang berkedudukan di Weltevreden,
dan Algemeen Bureau Excelsior yang berkantor pusat di
Bandung. (14)
(14) Von Vabet, Short History Jurnalism in Netherland-India 1933, hlm.24.
KANTOR BERITA DAN PERUSAHAAN PERIKLANAN
Aneta yang didirikan tahun 1905, sebenarnya adalah
kantor berita resmi pada masa pemerintahan Gubernur
Jenderal Van Heuts. Namun Aneta juga memiliki departemen
iklan yang sangat canggih. Bukan saja dalam hal peralatan,
namun juga ditunjang oleh tenaga-tenaga ahli dari Eropa.
Tenaga-tenaga artistik (Kreatif) periklanan mereka yang
menonjol adalah; F. Van Bemmel, Is. Van Mens dan Cor
van Deutekom. Begitu pula para klien mereka pun umumnya
adalah perusahaan-perusahaan besar, seperti; BPM (Bataafche
Petroleum Maatschappij) di Surabaya, serta General Motors
dan KPM (Koninklijke Pakevaart Maatschappij) di Batavia.
Iklan-iklan dari Aneta juga menyebar ke berbagai suratkabar
di luar Batavia, seperti Soerabaiasch Handelsblad di
Surabaya dan Semarang Handelsblad di Semarang.(15) Sebagian
keuntungan Aneta dimanfaatkan untuk membayar telegram
berita-berita luar negeri dari kantor berita Inggris,
Reuter. Aneta bahkan ikut membantu kelangsungan hidup
Indische Courant, suratkabar berbahasa Belanda yang
justru kecil tirasnya.
(15) Produk advertensi Aneta yang didistribusikan ke beberapa surat kabar tersebut, sirkulasi satu hari 2000 sampai 4000 copy, untuk deskripsi produktivitas advertensi Aneta, lihat G.H. Von Faber. A Short of Journalism in the Dutch East Indies. G. Kolff & Co., tanpa tahun terbit, hlm.120.
Sebagai perusahaan periklanan, Aneta juga dikelola
secara baik. Ini terlihat dari anggaran-anggaran periklanan
yang diperoleh dari pada kliennya. BPM saja sebesar
f.650.000 dan Goodyear tire & Rubber Co., menduduki
tempat ketiga dengan f.620.000.(16) Besarnya anggaran-anggaran
periklanan ini tentu saja sangat dipengaruhi pula oleh
kemajuan industri serta persaingan dalam perdagangan.
(16) Kabar Perniagaan, 3 Juni 1917.
Iklan-iklan Aneta yang didistribusikan ke beberapa
suratkabar tersebut, mencakup akumulasi tiras per hari
antara 2000 sampai 4000 ekslempar. Untuk pertelaan produktivitas
iklan Aneta. (17)
(17) G.H. Von Faber. A Short of Journalism in the Dutch East Indies. G. Kolff & Co., tanpa tahun terbit, hlm.120.
|