Home | Sitemap


SEKRETARIAT PUSAT PPPI
Jalan Wolter Monginsidi No.88A
Lantai 2 Kebayoran Baru
Jakarta 12170
Tel. +6221 725 2617, +6221 913 06 913, +6221 707 45 580
Fax. +6221 725 2613

Tentang PPPI ›
Hubungi Kami ›
Kitab EPI ›



BROSUR-BROSUR PERTAMA UNTUK "GO PUBLIC"

Pertumbuhan iklan di jaman Hindia Belanda, sangat dipengaruhi pula oleh masuknya modal swasta ke sektor perkebunan dan pertambangan pada tahun 1870. Karena perkembangan itu ternyata menumbuhkan kebutuhan baru, berupa pembentukan lembaga-lembaga penelitian untuk mengembangkan dan mengakumulasi modal mereka, seperti yang dilakukan oleh asosiasi perusahaan-perusahaan gula, Suikersyndicaat, misalnya. Asosiasi ini juga bertugas sebagai lembaga penelitian, dan sekaligus memproduksi pula brosur-brosur sebagai wahana informasi dan promosi. Dengan demikian, para calon penanam modal di perusahaan perkebunan mereka mengetahui seberapa jauh rentabilitas investasi mereka.
Javaasche Bank menggunakan barang-barang cetakan untuk mengundang modal asing ke Hindia Belanda. Brosur dan buklet perkenalan mereka umumnya dicetak di percetakan G.C.T. van Dorp & Co., yang berlokasi di Jakarta, Semarang dan Surabaya.(12)

(12) Verslag Conggress Drukpers 1914, hlm.23.

IKLAN PERTAMA KANTOR TENAGA KERJA

Masuknya modal swasta di sektor perkebunan, juga memicu tumbuhnya iklan pemasok tenaga kerja. Tahun 1902, iklan jenis ini muncul di suratkabar-suratkabar Sumatra Post dan Deli Courant di Sumatra Timur (sekarang Riau), daerah perkebunan utama masa itu. Pada iklan-iklan yang dimuat dalam kedua suratkabar ini, mungkin terasa bahasa yang digunakan kurang etis bagi telinga orang Indonesia sekarang. Iklan ini kalau ditulis-ulang ke dalam bahasa Indonesia sekarang, kira-kira berbunyi, sbb:

Tersedia tenaga kerja dari Jawa, khususnya orang-orang yang berasal dari Bagelan (Madura). Mereka adalah orang - orang yang kuat (flink), muda (jong) dan sehat (gezond).

IKLAN PERTAMA PRODUK INDUSTRI


Masuknya produk-produk industri baru ke Hindia Belanda mendorong produsennya untuk juga beriklan. Lampu penerangan yang tidak menggunakan listrik, adalah teknologi baru saat itu. Berikut ini adalah salah satu iklan produk tersebut yang teksnya dibuat oleh perusahaan periklanan dan dimunculkan di suratkabar Reclame en Reproductie. Istilah, frasa dan gaya bahasanya pun sudah jauh berbeda dari iklan-iklan masa sebelumnya:

Biar ditempat jang tidak ada listrik sekalipoen, dizaman modern ini orang tidak memakai lagi pelita.
Apa sebab?
Sebab ada lampoe jang sama terang, sama bersih dan sama gampang seperti listrik;, jaitoe Lampoe Optimus.Sedia roepa-roepa model, besar dan ketjil, pakai kap atau tidak.Tidak ada orang naik hadji ke Mekah yang tidak membawa kompor Optimus, sebab tjepat dan gampang dipakainya.(13)

(13) Reclame en Reproductie: De Zincografische  processen en hunne toepassing. Albrech & Co.,  Weltevreden 1925.

Iklan lampu Optimus tersebut tampil menggunakan tiga bahasa sekaligus; Indonesia, Arab dan Cina.

Terlibatnya perusahaan periklanan dalam menciptakan iklan menandakan, bahwa pola perdagangan dan metode pemasaran di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 itu, telah mulai dipengaruhi pula oleh perusahaan periklanan. Perkembangan ini mencerminkan, bahwa Hindia Belanda telah melakukan pula adaptasi terhadap metode pemasaran sebagaimana yang berlangsung di Eropa. Dampaknya pun ternyata sama, yaitu mendorong terjadinya "perang dagang". Situasi ini terkonfirmasikan dalam iklan sabun cuci Ofi di Reclame en Reproduktie yang disajikan secara menarik dan bergambar. Iklan ini mengandung unsur persuasi yang kuat karena produknya "dijanjikan" sebagai sabun cuci yang paling baik, namun dengan harga yang murah pula. Awal abad ke-20 ditandai pula dengan mulai bermunculannya perusahaan periklanan. Umumnya mereka baru pada tahap sebagai kolportir iklan untuk suratkabar. Di antara mereka ada yang mengiklankan juga pelayanannya, lengkap dengan daftar harga untuk pemasangan iklan di masing-masing suratkabar. Menjamurnya perusahaan periklanan masa itu, tentu saja makin mendorong pula perkembangan suratkabar.

Seperti di masa sekarang, perusahaan periklanan pada masa itu pun dapat dikelompokkan dalam tiga kategori; besar, menengah dan kecil. Perusahaan-perusahaan periklanan besar semuanya dimiliki oleh orang-orang Belanda. Sedangkan yang kecil umumnya dimiliki oleh keturunan Cina atau pribumi. Menjamurnya perusahaan periklanan merangsang pula penanam modal oleh orang-orang non-pribumi. Khususnya untuk menerbitkan suratkabar-suratkabar baru.

Periklanan ternyata mampu menyumbangkan dana yang memadai untuk memproduksi suratkabar-suratkabar mereka. Hingga tahun 1912, hanya satu suratkabar yang dimiliki pribumi. Suratkabar yang kebetulan memiliki sendiri percetakannya ini adalah Medan Prijaji, dipimpin oleh R.M. Tirtoadhisoerjo. Tokoh ini belakangan menjadi salah satu perintis pers Indonesia.
Medan Prijaji banyak memuat iklan produk batik, karena batik bukan saja merupakan pakaian sehari-hari orang Jawa, namun juga menjadi produk yang sangat digemari dan eksklusif bagi orang-orang Eropa. Sukses Medan Prijaji sebagai surat kabar yang sangat ditunjang iklan, dicoba-ikuti oleh suratkabar-suratkabar pribumi lainnya. Misalnya, Sinar Djawa yang mulai terbit tahun 1914, yang mungkin karena berhasil melakukan distribusinya ke luar Jawa, dua tahun kemudian berubah nama menjadi Sinar Hindia.
Suratkabar ini pada awal hidupnya banyak ditunjang oleh perusahaan-perusahaan periklanan milik orang Cina. Diantaranya adalah perusahaan periklanan Liem Eng Tjiang & Co., yang banyak memiliki klien sabun dan kompor.

Beberapa perusahaan periklanan yang cukup mendominasi iklan di suratkabar di Hindia Belanda saat itu, adalah Aneta, Albrecht & Co., yang berkedudukan di Weltevreden, dan Algemeen Bureau Excelsior yang berkantor pusat di Bandung. (14)

(14) Von Vabet, Short History Jurnalism in Netherland-India 1933, hlm.24.

KANTOR BERITA DAN PERUSAHAAN PERIKLANAN

Aneta yang didirikan tahun 1905, sebenarnya adalah kantor berita resmi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Heuts. Namun Aneta juga memiliki departemen iklan yang sangat canggih. Bukan saja dalam hal peralatan, namun juga ditunjang oleh tenaga-tenaga ahli dari Eropa. Tenaga-tenaga artistik (Kreatif) periklanan mereka yang menonjol adalah; F. Van Bemmel, Is. Van Mens dan Cor van Deutekom. Begitu pula para klien mereka pun umumnya adalah perusahaan-perusahaan besar, seperti; BPM (Bataafche Petroleum Maatschappij) di Surabaya, serta General Motors dan KPM (Koninklijke Pakevaart Maatschappij) di Batavia. Iklan-iklan dari Aneta juga menyebar ke berbagai suratkabar di luar Batavia, seperti Soerabaiasch Handelsblad di Surabaya dan Semarang Handelsblad di Semarang.(15) Sebagian keuntungan Aneta dimanfaatkan untuk membayar telegram berita-berita luar negeri dari kantor berita Inggris, Reuter. Aneta bahkan ikut membantu kelangsungan hidup Indische Courant, suratkabar berbahasa Belanda yang justru kecil tirasnya.

(15) Produk advertensi Aneta yang didistribusikan ke beberapa surat kabar tersebut, sirkulasi satu hari 2000 sampai 4000 copy, untuk deskripsi produktivitas advertensi  Aneta, lihat G.H. Von Faber. A Short of Journalism in the Dutch East Indies. G. Kolff &  Co., tanpa tahun terbit, hlm.120.

Sebagai perusahaan periklanan, Aneta juga dikelola secara baik. Ini terlihat dari anggaran-anggaran periklanan yang diperoleh dari pada kliennya. BPM saja sebesar f.650.000 dan Goodyear tire & Rubber Co., menduduki tempat ketiga dengan f.620.000.(16) Besarnya anggaran-anggaran periklanan ini tentu saja sangat dipengaruhi pula oleh kemajuan industri serta persaingan dalam perdagangan.

(16) Kabar Perniagaan, 3 Juni 1917.

Iklan-iklan Aneta yang didistribusikan ke beberapa suratkabar tersebut, mencakup akumulasi tiras per hari antara 2000 sampai 4000 ekslempar. Untuk pertelaan produktivitas iklan Aneta. (17)

(17) G.H. Von Faber. A Short of Journalism in the Dutch East Indies. G. Kolff & Co., tanpa  tahun terbit, hlm.120.




                    
Iklan “BUILD IN” dalam Sudut Pandang Etika Pariwara di Indonesia
Kitab EPI sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini dan sudah mencantumkan beberapa pasal yang mengatur iklan-iklan "build-in" khususnya di media Radio/Televisi (media elektronik)... lengkap›
Bersiaplah Untuk Jawa Pas Ad Festival 2007
Karya-karya print ad terbaik yang telah ditayangkan di Harian Jawa Pos selama periode 1 tahun berhak untuk mengikuti kegiatan ini baik karya nasional maupun local dengan pembedaan katagori entri Nasional dan Metropolis, sehingga diharapakan... lengkap›
Materi Iklan Harus Dari Dalam Negeri››

Diskusi EPI : Penggunaan Kata/istilah Superlatif››

Acuan dari Badan POM RI untuk Iklan-iklan Multivitamin››