
SEJARAH PERIKLANAN INDONESIA 1744 - 1984
Sejarah merupakan bagian yang penting dari kehidupan umat manusia. Karena sejarah memperlihatkan kepada kita suatu perjalanan panjang, sehingga kita ambil hikmah untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Karena itu sejarah periklanan merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan dan masa depan masyarakat, utamanya masyarakat periklanan.Sejarah Periklanan Indonesia akan memperlihatkan proses perkembangan dan pengembangan periklanan Indonesia mulai dari keberadaannya sekedar sebagai pengumuman datangnya sebuah kapal dagang tahun 1744 Bataviaasche Nouvelles sampai perannya sebagai alat komunikasi pemasaran dewasa ini.
Penerbitan buku periklanan ini sendiri mempunyai
sejarahnya. Pengambil prakarsa untuk menerbitkan buku ini
tidak jelas. Namun "sejarah" gagasan untuk menerbitkan
buku ini sudah terentang sejak tahun 1981, ketika Sdr. Indra
Abidin menjabat Ketua Umum PPPI. Dalam suatu pertemuan dengan
Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika yang waktu itu
dijabat oleh Soekarno S.H., yang juga dihadiri oleh Pengurus
Pusat PPPI, ia meminta PPPI untuk mulai menyusun Sejarah Periklanan
Indonesia. Menurutnya, komponen pers lainnya, Serikat Penerbit
Surat Kabar (SPS) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sudah
memiliki buku sejarahnya sendiri. Sedangkan Serikat Grafika
Pers
(SGP), kendati belum memiliki, namun kiprahnya
sudah dapat disimak dari sejarah-sejarah SPS ataupun PWI.
Meskipun gagasan tersebut sudah lama, namun
kondisi periklanan hingga beberapa tahun kemudian tidak mungkin
menempatkannya dalam skala prioritas. Begitu pula ketika Baty
Subakti ditugaskan meneruskan jabatan Ketua Umum sejak tahun
1984. Dia bahkan mengaku hanya mampu menjadikannya sebagai
obsesi pribadi.
Namun pada Kongres VIII PPPI di Padang tahun
1990 penulisan sejarah Periklanan berhasil dimasukkan sebagai
salah satu program asosiasi, oleh Henry Saputra, salah satu
aktivitas asosiasi, dengan ketentuan sudah harus selesai sebelum
Kongres berikutnya.
Karena itu, saya sangat gembira bahwa buku
Sejarah Periklanan Indonesia ini dapat diselesaikan sesuai
dengan amanat Kongres. Keberhasilan ini tidak terlepas dari
usaha serta jerih payah gugus tugas yang dipimpin oleh Baty
Subakti dan beranggotakan antara lain; Muhammad Napis, Henry
Fitriani, Ita Puspitasari, Lenny Puspitasari, Razif, Bambang
Saptono, Yuli Noor Hasan, Agoes Shitox dan Widyanta.
Penyusunan dan penulisan buku sejarah ini bukan
sekedar kumpulan dari catatan-catatan sejarah pengiklan, perusahaan
periklanan, media periklanan ataupun iklan-iklan itu sendiri,
namun ia telah mampu menjadi acuan bagi keseluruhan sasaran,
tujuan, gagasan, proses, materi dan etika periklanan. Bahkan
memberi pula wawasan dan visi bagi para praktisi periklanan
dari masa ke masa secara informatif dan edukatif.
Harapan saya, ikhtisar penulisan sejarah periklanan
dapat dilanjutkan terus baik untuk menyempurnakan bahan-bahan
yang sudah terhimpun dalam buku ini, maupun sebagai kelanjutannya
(periode 1981 hingga sekarang). Saya harap bahwa buku sejarah
periklanan ini akan bermanfaat bagi generasi mendatang, para
pendidik maupun siswanya, serta para pemerhati periklanan
lainnya. Kepada segenap anggota gugus tugas penyusun saya
sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya, semoga amal
bakti Saudara-saudara mendapat perkenan dan rahmat dari Tuhan
Yang Maha Esa. Amin.
Selamat Membaca,
Yusca Ismail
|